“Jantung” Buatan Itu Bernama KEK (bagian 7)

Satu hal penting dan segera disiapkan roadmap-nya oleh pemerintah daerah dalam menyambut Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah penataan sistem transportasi. Setidaknya mencakup tiga hal; transportasi dalam kota, dalam kawasan KEK dan sekitarnya, serta antarkabupaten dalam provinsi dan angkutan antarprovinsi.

Ini penting sekali mengingat pertumbuhan kendaraan di Sulawesi Tengah mencapai 10 persen setiap tahun. Jumlah yang sangat tinggi dibanding pertumbuhan penduduk di Sulawesi Tengah dalam 10 tahun terakhir.

Jumlah kendaraan akan semakin meledak ketika nanti pertumbuhan ekonomi semakin baik jika KEK membuahkan hasil. Sementara di lain sisi, infrastruktur penunjang jalan dan jembatan pertumbuhannya sangat melambat. Bahkan nanti tiba waktunya pembangunan jalan baru akan terhenti sementara kendaraan terus membanjiri daerah ini. Semakin sempitlah ruang kita.

Mari kita tengok Kota Palu. Problem transportasi kita tak kunjung terasi. Lihat saja, konflik sopir angkutan kota dan pengelola rental antarkabupaten dalam provinsi belum bisa terurai. Belum lagi angkutan peti kemas yang masih hilir mudik dalam kota. Bahkan masuk sampai di jalan sempit. Jika pemerintah Kota Palu lembek dalam mengurus semua itu, kesemrawutan akan terus kita pergoki setiap hari.

Karakter berkendara masyarakat Palu yang cenderung emosional bisa menjadi potensi konflik baru. Setiap hari kecelakaan bisa terjadi. Setiap hari orang bisa berkelahi hanya gara-gara lalu lintas yang tidak teratur. Jadilah transportasi masalah baru. Terkuras lagi APBD hanya untuk menyelesaikannya. Sebelum semuanya menjadi rumit, roadmap-nya sudah harus selesai sebelum KEK diwujudkan.

Oke, sekarang sudah ada terminal Mamboro untuk melayani jalur transportasi ke wilayah utara dan terminal Tipo untuk jalur ke selatan. Tetapi apakah itu sudah berfungsi? Jawabnya belum.

Mari kita tengok pelayanan angkutan antarkabupaten dan antarprovinsi. Semuanya masih membuka agen di dalam kota. Bongkar muat barang dalam kota. Padahal ada terminal tapi tidak difungsikan.

Saat ini terdapat 42 izin operasi perusahaan angkutan. Satu perusahaan paling sedikit 10 bus. Bahkan ada perusahaan punya sampai 20 unit bus. Jika dikali 42 perusahaan paling tidak terdapat 420 unit bus. Sebagian bus yang beroperasi berkapasitas 45 tempat duduk. Inilah yang hilir mudik dalam kota. Mereka mengambil hak jalan orang lain. Padahal mestinya mereka hanya sampai di terminal.

Dampak tidak tegasnya pemerintah kota itu akhirnya terminal sepi. Perputaran uang di sana juga lambat. Padahal tidak sedikit orang menggantungkan hidupnya di sana. Selain angkutan kota, juga banyak pedagang. Padahal jika terminal hidup mungkin sudah ada orang yang membangun penginapan di dekat terminal itu. Sopir angkutan kota juga tidak akan menuntut lagi keadilan. Penumpang juga hanya satu tujuan yakni terminal. Sekarang penumpang harus bergerak dengan dua tujuan. Pertama ke agen dalam kota, setelah itu ke terminal lagi. Lelahnya jadi dua kali.

Pemerintah kota sudah bernafsu membangun terminal, tapi tidak diikuti dengan memaksimalkan fungsinya. Fasilitasnya tidak maksimalkan. Di terminal Mamboro hanya ada satu sumur suntik. Itulah yang menyuplai seluruh kebutuhan air di terminal. Kadang macet sampai dua, tiga hari. Pengelola toilet dan masyarakat di dalamnya akhirnya mengangkut air sendiri dari luar terminal. Jelas lelah dan menambah ongkos. Pantas saja perusahaan angkutan tidak betah di sana.

Hem… wali kota dan wakil wali kota Palu konon begitu berilian dalam membangun kota bahkan KEK bisa diurus, tapi hal sepele seperti air di terminal tak bisa diselesaikan.

Bagaimana dengan angkutan peti kemas. Ini juga tak pernah selesai dari keluhan warga kota. Beberapa bulan lalu ada wacana kontainer hanya bisa masuk dalam kota pada jam tertentu. Misalnya jam 10 malam sampai jam lima pagi. Selain jam yang ditentukan itu tidak boleh ada aktivitas kontainer di jalan. Berani melanggar dikenakan sanksi. Ehh, nyatanya hanya habis diwacana. Kapan bisa tuntas jika hanya berkutat di wacana saja. Saya pun bisa jadi wali kota jika hanya berwacana.

Urusan KEK tidak bisa lepas dari problem transportasi. Mari kita berkunjung sejenak ke Kebun Kopi. Jalur yang tiada henti pembangunannya ini kian padat. Kendaraan sambung menyambung tiada henti.

Dibanding lima tahun lalu misalnya, sekarang jauh lebih padat. Sekarang sedang diberlakukan buka tutup jalan karena ada perbaikan. Jalannya diperlebar. Gunung-gunung digunting agar jalan bisa lebih lebar. Dari dulu selalu diperlebar. Titik yang sebelumnya sudah lebar, dibongkar lagi. Akhirnya hanya berputar di situ saja. Mungkin proyeknya sengaja tidak sekali rancang, misalnya, diperlebar sampai 40 meter supaya 20 tahun lagi baru diperlebar lagi. Ini juga patut dicurigai jangan sampai Kebun Kopi hanya jadi proyek tahunan dari orang tertentu untuk dapat keuntungan.

Kalau industri pengolahan di KEK sudah berjalan, otomatis jalan ini akan semakin padat karena arus barang khususnya bahan baku dari wilayah timur dan utara akan dipasok ke KEK melintasi Kebun Kopi. Ini satu-satunya jalur transportasi yang memadai.

Sekali longsor dan berdampak tertutupnya jalan, pasokan bahan baku ke pabrik bisa terhenti. Praktis mempengaruhi produktivitas pabrik. Jika kejadiannya berulang, apalagi sampai berlarut-larut bisa menimbulkan masalah baru. Investor bisa ngambek. Lama-lama ia malas dan hengkang dari KEK.

Wacana pembukaan jalur baru dari Kota Palu tembus di Parigi, sampai sekarang belum bisa direalisasikan. Pemerintah provinsi diminta memperbaiki kembali uji kelayakannya. Selain itu juga harus memotong taman hutan rakyat. Jika tidak ada izin pelepasan kawasan dari kementerian, ini pelanggaran dan pemerintah bisa dihujat habis. Paling tidak 2014 jalan alternatif ini sudah harus dibuka. Sehingga infrastruktur pendukung KEK bisa lebih baik.

Bagaimana dengan transportasi di sekitar KEK. Ini juga tidak kalah pentingnya. Bagaimana pengaturan kendaraan yang keluar masuk dari kawasan industri itu. Tidak hanya distribusi hasil pengolahan dari pabrik ke pelabuhan Pantoloan, selanjutnya ke negara tujuan. Tetapi juga jalur transportasi pemasok bahan baku.

Lajur jalan trans Sulawesi di Pantoloan dan sekitarnya akan tidak memadai lagi jika kendaraan semakin padat. Sekarang saja kadang macet. Perlu ada rekayasa jalur khusus pengangkut bahan baku ke lokasi industri, sehingga kenyamanan pengguna jalan umum tidak terganggu.

Tidak perlu terlalu jauh kita melihat aktivitas angkutan barang sampai ke pusat-pusat industri di Jawa, misalnya. Di industri rotan yang sudah beroperasi di Tawaeli, Pantoloan dan sekitarnya cukup jadi pembelajaran. Jika aktivitas di sana berjalan khususnya kendaraan keluar masuk pabrik, kadang terjadi macet. Sore hari saat para pekerja keluar dari pabrik, macet tidak bisa dibendung. Itu baru industri sekala kecil menengah. Bagaimana dengan KEK yang sudah berskala internasional dan banyak model industri di dalamnya. Tentu aktivitasnya jauh lebih dahsyat.

Sebagai warga kota tentu saja, saya dan Anda ingin berkendara di jalan tanpa harus direcoki dengan macet.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s