“Jantung” Buatan Itu Bernama KEK (bagian 8)

Banyak kesempatan saya berdiskusi tentang perkakaoan dengan mantan Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulawesi Tengah Herman Agan. Banyak momen saya mendengar Wali Kota Palu Rusdy Mastura, bermimpi tentang pengelolaan industri kakao yang modern di kotanya. Banyak kesempatan saya berbincang dengan petani kakao.

Tidak sedikit pertanyaan kerap saya lontarkan ke pelaku bisnis kakao. Mereka pedagang pengumpul sampai eksportir. Tidak sedikit waktu saya luangkan mengecek keberadaan proyek gerakan perbaikan mutu kakao nasional (Gernas) di Dinas Perkebunan Sulawesi Tengah. Lumayan waktu saya luangkan mendengar keluhan orang-orang tentang baik buruknya program Gernas.

Pada lain waktu, saya luangkan kesempatan menghadiri lokakarya perkebunan di Menara Kadin Kuningan, Jakarta. Di sana para pelaku bisnis, berkantong tebal, mengurai berbagai problem dan prospek perkakaoan mulai dari hulu sampai hilir. Di sana juga hadir ekonom Indonesia, Faisal Basri. Pembicaraan kakao tidak hanya seputar Indonesia tapi sudah sampai ke Pantai Gading dan Ghana, dua negara di Afrika yang paling hebat produksi kakaonya di dunia.

Dari berbagai usaha saya itu, boleh dibilang pengetahuan saya tentang perkakaoan tidak teramat miskin. Sebagai anak petani kakao, yang sebagian besar biaya pendidikan saya dari penghasilan kakao, wajar jika saya peduli dengan komoditas andalan Sulawesi Tengah itu.

Lalu, apa hubungannya dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu? Justru karena KEK salah satunya nanti akan menyasar komoditas kakao, maka penting sekali kita perbincangkan. Apa yang segera kita lakukan, kebijakan apa yang pantas diterapkan, siapa yang kita desak melakukan apa, dan sebagainya. Inilah yang saya sebut salah satu perangkat lunak (software) dari KEK yang perlu disiapkan.

Mendiskusikan kakao hubungannya dengan KEK ibarat membuat sepeda motor. Produsen harus menyiapkan seluruh suku cadangnya sehingga begitu ada satu alat yang rusak, konsumen dengan mudah memperolehnya. Bengkel yang mengerjakan juga harus siap dan tersebar di mana-mana. Tenaga ahli mekanik juga diciptakan sebanyak mungkin. Semakin banyak suku cadang, bengkel dan ahli yang siap untuk itu akan semakin cerah pemasaran produksi sepeda motor itu.

Begitupun dengan kakao dan KEK, tidak bisa hanya berharap dengan kondisi saat ini tetapi perlu kesiapan matang, baik dari kuantitas maupun kualitasnya. Dan itu harus dilakukan sekarang sehingga begitu industri pengolahannya beroperasi, katakanlah lima tahun mendatang, maka industri tidak kesulitan memperoleh bahan baku. Sumber daya petani juga sudah siap.

Ini masalah serius karena tantangannya berat. Bukan saja dari kesiapan lahan, obat-obatan, kuantitas, kontinyuitas dan kualitas produksinya tetapi juga bagaimana mengorganisirnya sehingga petani kakao juga bisa bangkit menjadi petani yang cerdas. Petani yang tidak gampang dipermainkan oleh hegemoni industri. Lebih baik makan singkong rebus tapi nyata daripada makan keju hanya dalam khayalan. Lebih baik dengan kondisi sekarang dari pada berkhayal masuknya industri tapi justru merugikan petani. Inilah yang perlu ditangkis sebelum kerugian mendera petani kita kelak.

Industri yang maju akan menerapkan standar-standar produksi maupun standar bahan baku yang dibutuhkan. Petani kakao sejak dini sudah harus dididik dalam rangka menjemput industrialisasi kakao tersebut. Kesiapannya pun tidak sekadar memperbaiki mutu kakao tetapi juga menyangkut manajemen pengelolaan sehingga petani kita tidak gampang dibodohi.

Dengan begitu perlu dihidupkan kembali urat nadi perekonomian petani melalui lembaga koperasi. Bagi saya pelembagaan petani merupakan prasyarat yang harus dipenuhi. Melalui lembaga koperasi itulah petani diajak berdiskusi, diajak mengelola usaha secara berkelompok, diajak berinvestasi, diajak menabung, diajak menatap masa depan yang begitu kompleks dan sebagainya.

Dengan begitu koperasi tidak sekadar menjadi tempat pelarian petani dalam memenuhi kebutuhan pokok hidup dan kebutuhan pertaniannya, tetapi juga menyangkut ketahanan mental dan disiplin ilmu seputar manajemen perkebunan. Koperasi itulah kelak diharapkan menjadi jembatan penghubung antara kepentingan industri di satu sisi dan kepentingan petani di sisi lain. Menjadi jembatan pemenuhan kebutuhan petani, mulai dari bahan obat-obatan, alat kerja dan proses pascapanen seperti alat pengering, alat ukur kadar air dan sebagainya.

Melalui lembaga koperasi maka kontrol distribusi produksi lebih enteng, demikian halnya terhadap kemungkinan adanya permainan harga yang merugikan petani. Bukan tidak mungkin kelak industri sudah jadi, ada monopoli perdagangan yang dilakukan orang tertentu dan merugikan petani. Makanya kelembagaan diperlukan agar mata rantai tata niaga kakao lebih pendek dan petani bisa mendapatkan nilai tambah. Sudahkah kita berpikir hubungan KEK dengan kesiapan petani kita seperti itu? Atau memang pemikiran ini tidak penting.

Mungkin ada yang menganggap ini masalah sepele. Sehingga dibiarkan saja berjalan apa adanya toh stok bahan baku cukup untuk kebutuhan industri. Tapi bagi saya, pemerintah tidak boleh menyerahkan urusan perkakaoan hanya kepada petani semata atau hanya kepada mekanisme pasar semata. Tetapi pemerintah perlu mengintervensi kebijakan di sektor perkebunan kakao sehingga hasilnya bisa lebih maksimal.

Mari sejenak kita melihat potensi kakao di Sulawesi Tengah. Saat ini produksi biji kakao terus menurun. Tidak hanya kuantitas, tapi juga kualitasnya. Sejumlah pedagang antar pulau mengeluhkan masalah kualitas karena cukup berpengaruh terhadap harga. Kualitas biji kakao akhir-akhir ini banyak yang rusak karena biji bercampur kotoran, kadar air tinggi dan biji kecil nan keriput.

Masalah itu adalah faktor genetik dan perlakuan petani pascapanen terhadap kakao itu. Ini butuh waktu untuk memperbaikinya. Gernas yang pernah digelontorkan di Sulawesi Tengah belum membuahkan hasil maksimal. Di Donggala saja banyak petani yang tidak dapat Gernas. Banyak pula yang gagal. Saya khawatir ini bisa berdampak pada kesiapan industri pengolahan kakao.

Sebagai ilustrasi, kebutuhan biji kakao untuk industri PT. Bumi Tangerang Mesindotama sebanyak 150 ton per hari atau setara dengan 11-12 kontainer per hari. Artinya satu industri butuh 3.750 ton per bulan (25 hari kerja) atau 45.000 ton per tahun.

Jika kita mengacu data ekspor biji kakao Sulawesi Tengah pada 2012 sebanyak 35.366 ton, maka Sulawesi Tengah masih minus hampir 10 ribu ton per tahun. Jika nanti dibangun dua industri pengolahan di KEK, mau atau tidak bahan baku harus dipasok dari provinsi tetangga. Secara nasional kebutuhan bahan baku biji kakao untuk industri nasional juga terus mengalami kenaikan untuk melayani 12 pabrik di Indonesia yang sudah eksis.

Kejayaan produksi kakao di Sulawesi Tengah pernah mencapai puncaknya pada 2009 mencapai 115 ribu ton. Itu yang tercatat di Askindo pada kepemimpinan Herman Agan. Sekarang produksi kian melemah sehingga sulit menyentuh angka 100 ribu ton. Salah satu biang keroknya adalah rusaknya tanaman itu karena serangan hama penggerek batang dan mati pucuk. Buah kakao belum sempat besar sudah mati. Buahnya kering, keras dan hitam. Buah yang bisa diselamatkan kondisinya rusak, keras dan kehitam-hitaman. Praktis ini mempengaruhi kualitas produksi.

Umumnya petani mengeluh karena buah tak kunjung membaik. Hama menjadi mahluk yang sangat ditakuti petani, namun tak kunjung berhasil dibasmi. Produksi juga tertekan akibat pohon kakao sudah banyak yang lanjut usia. Tindakan peremajaan lambat dilakukan petani karena minimnya pengetahuan. Petugas penyuluh lapangan tidak berfungsi baik.

Dampak paling terasa adalah banyak petani yang menebang pohon kakaonya. Lahannya dialihfungsi menjadi kebun palawija. Di Kabupaten Parigi Moutong, misalnya, awal cerahnya perkebunan kakao banyak petani yang mengalihfungsikan sawahnya menjadi kebun kakao. Sekarang terbalik. Kebun kakao kembali dialihfungsikan menjadi sawah. Artinya, ada kecenderungan luas lahan perkebunan kakao berkurang. Ini fenomena yang harus diwaspadai.

Di Kabupaten Donggala, khususnya di wilayah pantai barat produksi kakao turun drastis. Kira-kira tiga, empat, lima tahun lalu, bus angkutan pedesaan setiap hari memuat tiga hingga lima ton kakao. Kurun waktu itu mereka lebih banyak untung dari jasa pengiriman penjualan kakao dibanding dari jasa penumpang. Sekarang sudah sangat jarang petani yang menitip kakaonya dijual ke Palu melalui bus angkutan pedesaan. Kalaupun ada tidak sampai hitungan ton. Bahkan bus yang dulunya masih bisa mengangkut kakao mereka hentikan beroperasi. Ini gejala yang tidak bisa dipandang enteng oleh pemerintah.

Pemerintah tidak boleh lagi asyik beronani, bahwa daerah kita penghasil kakao terbesar di Sulawesi Tengah. Tapi harus ada tindakan preventif untuk menyelamatkan komoditas primadona daerah itu dari kemerosotan produksi. Harus ada tindakan ril dari pemerintah karena kondisi ini bisa menjadi ancaman kendornya semangat investor membangun pabrik di KEK. Pak Wali Kota Palu Rusdy Mastura, yang selalu berapi-api bicara kakao, harus memberikan saran kepada daerah-daerah penghasil kakao agar produksi dan produktivitas didongkrak kembali. Tidak boleh lagi terlena dengan hitung-hitungan di atas kertas. Tapi perlu tindakan nyata.

Begitu banyak masalah yang mengintai perkebunan kakao kita hari ini. Itu baru dari sisi kebutuhan bahan baku, belum lagi masalah kualitas dan tetekbengek lainnya. Oleh sebab itu menjemput KEK harus disiapkan dengan baik, tidak saja menyangkut perangkat kerasnya tapi juga perangkat lunaknya. Sudakah kebijakan APBD provinsi, kabupaten dan kota mendukung masa depan KEK? Entahlah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s