Agussalim! Teruslah Berjuang Untuk Rakyat

JIKA saya ditanya, siapa diantara tokoh mahasiswa era 1992 – 1998 yang paling rajin membangun konsolidasi demokrasi melawan orde baru? Jawabnya Agussalim Faisal Said.

Dialah salah satu tokoh mahasiswa yang hilir mudik dari kampus ke kampus membangun ideologi pergerakan mahasiswa pada eranya. Dialah salah seorang mahasiswa berpikir kritis dan bertindak berani untuk kepentingan bangsa yang lebih besar. Dialah salah seorang mahasiswa yang selalu gelisah atas berbagai problem kebangsaan dan keindonesiaan yang menyelimuti rakyat.

Agussalim, tidak saja bergerak di kalangan mahasiswa, tapi juga di kalangan petani, buruh, kaum miskin kota, dan mereka yang tertindas secara politik, tertindas secara ekonomi dan tertindas secara ideologi. Agussalim Faisal Said, masuk ke ranah itu demi kepentingan rakyat yang teraniaya akibat demokrasi semu. Rakyat yang kehilangan hak-hak asasi akibat kekuasaan yang cenderung otoriter. Akibatnya rakyat sakit secara psikis karena hidup dalam ketidakmerdekaan. Tidak merdeka dalam menyampaikan hak politik. Tidak merdeka dalam berserikat. Tidak merdeka dalam membangun ekonomi. Tidak mandiri sebagai bangsa dan kecenderungan penguasa mengungkung hak-hak asasi manusia.

Keberanian seorang Agussalim, pantas diberi apresiasi sebab membangun perlawanan terhadap pemerintah orde baru, sama dengan membuka sendiri pintu penjara untuk selanjutnya mendekam selamanya di dalam. Tapi bagi Agussalim, itulah konsekuensi dari perjuangan untuk kepentingan yang lebih besar yakni kepentingan bangsa dan negara serta seluruh kepentingan rakyat.

Konsolidasi gerakan yang dibangun bersama komponen kekuatan bangsa lainnya yang kritis tersebut pada puncaknya berbuah reformasi. Justru bagi Agussalim, reformasi adalah titik awal dalam memperbaiki nasib bangsa setelah hampir 40 tahun hidup dalam kemapanan.

Mengisi reformasi sesuai agenda yang diamanahkan adalah tugas yang tidak kalah beratnya. Pekerjaan yang tidak kalah pentingnya adalah menegakkan cita-cita reformasi di berbagai aspek. Pascajatuhnya Soeharto, Agussalim Faisal Said kembali “bergerilya” dari kampus ke kampus. Ia terus bergerak dari komunitas ke komunitas, hanya untuk penguatan penegakan agenda reformasi. Pria kelahiran Makassar 19 Agustus 1968 itu, tidak ingin reformasi hanya berganti baju. Hanya berganti era, sementara rakyat terus menderita. Hak-hak mereka dirampas atas nama negara, padahal untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Saya salah seorang dari sekian banyak mantan mahasiswa yang hingga kini masih merasakan atmosfir dari agenda perjuangan reformasi yang disemaikan Agussalim Faisal. Tidaklah berlebihan jika saya menaruh harapan besar kepada Agussalim Faisal Said untuk melanjutkan perjuangan itu dalam ruang politik yang lebih luas dan kewenangan politik yang lebih besar yakni perjuangan melalui DPR RI.

Saya menaruh harapan besar, Agussalim Faisal bisa melanjutkan perjuangan untuk kepentingan bangsa yang lebih besar melalui legitimasi rakyat Kalimantan Barat. Masih terngiang di telinga saya, betapa Agussalim lantang melawan korupsi. Lantang melawan ketidakadilan. Lantang melawan penindasan. Karena itulah saya percaya Agussalim akan berjuang tanpa korupsi. Berjuang dengan hati nurani.

Sebagai pejuang reformasi, Agussalim memilih partai yang menurutnya pantas menjadi alat perjuangan politik rakyat. Itulah Hanura.

Keyakinan itu semakin menguatkan saya, sebab Agussalim Faisal lahir dari keluarga terdidik. Lahir dari keluarga jujur. Besar dalam lingkungan keluarga yang toleran. Ayahnya Faisal Said, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tadulako pertama 1995-1997. Ibunya adalah seorang guru sekolah dasar Latimojong di Makkasar 1967-1972.

Saya percaya, kejujuran dan semangat berjuang Agussalim adalah titian ayah dan ibunya sebagai tenaga pendidik yang jujur. Saya percaya, Agussalim bukan lelaki pengecut yang menghianati titah perjuangan dan pendidikan orang tuanya. Saya yakin, Agussalim bukan pelacur politik yang tega menghianati amanah reformasi.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s