“Jantung” Buatan Itu Bernama KEK (bagian 10)

Sebelum kita melanjutkan perbincangan tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pada edisi 10 ini, saya memohon maaf kepada kaum perempuan. Kami laki-laki sepakat kaum berhati lembut itu pantas dan harus dijunjung tinggi serta diletakkan pada tempat yang terhormat. Menghargai hak-haknya sebagai perempuan berhati lembut. Menghormati kesetaraan gender dalam berbagai aspek, termasuk hak atas pekerjaan dan profesi.

Hanya saja segala predikat baik untuk kehormatan itu kadang tidak dijaga. Tidak dirawat sebagai sesuatu yang berharga sehingga menempatkan sebagian kaum perempuan di tempat yang hina nan menjijikkan. Inilah yang perlu dikhawatirkan atas dampak negatif terhadap KEK nanti. Maafkan saya jika pendapat ini terlalu berlebihan atau dianggap keliru.

Beberapa malam lalu, di pintu masuk hotel berbintang di Palu, saya mencium aroma parfum wangi nan lembut dari seorang gadis yang melintas keluar dari hotel. Sejenak sosok itu singgah di hadapan saya sambil memencet-mencet telepon genggamnya. Aroma parfum yang sudah bersenyawa dengan sekujur tubuhnya kian menakjubkan hingga mengantarkan diri ini seperti 10 tahun lebih muda hehe..

Sosok berambut panjang itu hendak menemui seorang pria di area parkir. Segera ia melangkah hingga mata ini terus mengikut di belakangnya. Hanya selang beberapa menit pandangan itu hilang bersamaan hilangnya sosok berpostur tinggi itu. Potongannya langsing, hidung mancung, rambutnya panjang sedikit keriting. Kulitnya putih. Jeans bermerek yang ia kenakan memperjelas liuk tubuh wanita itu, sepadan dengan sepatu hak tinggi yang melingkari jari-jari kakinya yang lentik. Tas jinjing yang menggantung di lengan kanannya mempertegas identitas dirinya sebagai sosok feminim. Sungguh sempurna.

Di balik keindahan itu, betapa saya kaget, ketika seorang petugas keamanan hotel menyebut perempuan itu sebagai “ayam”. Awalnya saya tidak paham, gadis cantik kok dibilang ayam. Ternyata maksudnya ayam yang bisa diajak ke sana kemari, ayam yang bisa diajak tidur bersama, ayam yang bisa diajak ke hotel-hotel mewah, ayam yang bisa diberi makan seharga Rp700 ribu sampai satu juta rupiah.

Gadis itu bukankah cerita baru di Kota Palu. Terlampau banyak cerita serupa dari pria-pria yang suka mengoleksi dan memelihara ayam-ayam itu. Kapan waktu dibutuhkan tinggal dihubungi dan diberi makan. Selesailah semua urusan.

Arus manusia yang tertarik dengan daya pikat KEK nanti akan berdatangan dari berbagai penjuru. Tidak saja tenaga kerja laki-laki, tapi juga tenaga kerja perempuan. Tidak saja yang bujang tapi juga pria yang sudah berkeluarga. Tidak saja gadis tapi juga perempuan yang sudah memiliki ikatan janji rumah tangga. Mereka akan berduyung-duyung ke lokasi KEK bekerja memenuhi kebutuhan hidup. Pemerintah menargetkan KEK akan menyedot sekitar 10 ribu tenaga kerja. Wow…

Saat puncak arus itu terjadi, tumpukan manusia dari berbagai latar belakang pun tidak bisa dibendung. Orang asing juga ada. Di sinilah masalah penyakit sosial masyarakat berpotensi mucul. Mematik munculnya arus-arus negatif seperti perdagangan perempuan, wanita-wanita penghibur, transaksi narkoba dan minuman keras. Sejalan dengan itu bisnis perempuan pun sulit dielakkan. Ayam-ayam panggilan kian memiliki peluang pasar, menebar virus-virus negatif HIV/Aids.

Para pekerja itu akan tersebar di pemondokan KEK. Tersebar di hotel. Tersebar di rumah-rumah kontrakan di Kota Palu. Bisnis rumah sewa akan meledak. Merebut peluang di tengah derasnya arus tenaga kerja. Seiring dengan itu kreativitas bisnis haram pun kian sulit dihalau. Bisnis peredaran obat terlarang, bisnis perempuan berkedok jasa pelayanan, bisnis rumah bordir dan potensi perjudian.

Bisnis yang sudah melanda semua kota itu akan melirik setiap relung tempat tinggal para pekerja. Di pemondokan maupun di rumah sewa, di sana ada pekerja yang berpisah dengan keluarganya. Berbulan-bulan kebutuhan biologisnya terpendam di tengah kesibukan. Di sana ada pekerja yang mengantongi uang. Di sana ada pekerja yang haus hiburan setelah berbulan-bulan berhadapan dengan rutinitas kerja. Lengah sedikit, di sinilah peluang masuknya arus kejahatan itu.

Perlukah legalisasi lokasi prostitusi dan perjudian agar tidak menyebar bebas? Saya pikir iya. Ini penting karena di sana, di KEK bisa jadi ada pekerja yang tidak punya agama. Lewat lokalisasi itulah penyebaran penyakit gampang dikontrol. Perjudian gampang dipantau. Tapi tantanganya sangat berat. Arus penolakan akan lebih kencang dibanding yang setuju.

Arus positif dan negatif dari perkembangan sebuah kota selalu berjalan beriringan. Niat baik yang mau dibangun, arus negatif pasti muncul sebagai konsekuensi dari kemajuan. Ini terjadi di manapun di negara berkembang dan negara maju sekalipun. Di sinilah pentingnya peran aparat keamanan. Pentingnya kehadiran para pencerah agama. Pentingnya kehadiran pendidikan dan pencegahan kebebasan seks dan narkoba. Pentingnya kewaspadaan dini dari pemerintah.

Ujian bagi aparat keamanan akan semakin tinggi. Kualitas dan metodologi para pencerah agama juga kian dituntut. Kewaspadaan masyarakat untuk memproteksi arus negatif juga tidak kalah pentingnya. Kita semua akan dituntut oleh kondisi yang mau atau tidak, harus dijalani. Peran kita semua jua yang akan menjadi kata kunci semuanya.

Di sinilah pentingnya seleksi ketat dalam perekrutan tenaga kerja. Tidak asal terima berdasarkan keahliannya semata, tetapi setidaknya menerapkan standar tertentu seperti tenaga kerja yang bebas narkoba, steril dari HIV/Aids. Selain itu perlu pengecekan rutin atas kondisi kesehatan para pekerja. Ini penting untuk memproteksi kesehatan tenaga kerja dari berbagai penyakit.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s