“Jantung” Buatan Itu Bernama KEK (bagian 12)

Senior saya, mantan anggota DPRD Tolitoli, sekarang bermukim di Jakarta membuka pabrik bata ringan di Kota Palu. Melirik usaha yang terbilang padat modal ini bukan muncul begitu saja, tetapi melalui analisa bisnis dengan mempertimbangkan berbagai aspek, peluang dan tantangannya. Salah satunya terkait peluang dan tantangan di tengah pertumbuhan Kota Palu dalam lima tahun terakhir.

Senior saya itu, awalnya ingin melanjutkan bisnis perumahannya di Tolitoli, tetapi setelah memperhatikan dan menimbang secara matang, kawan itu akhirnya memutuskan mengalihkan modalnya dengan membangun pabrik bata ringan di Kota Palu. Pembangunan perumahannya di Tolitoli, diabaikan sementara waktu karena peluang pengolahan bata ringan lebih menjanjikan.

Dalam dua tahun terakhir, sejumlah pembangunan hotel berbintang di Palu sudah menggunakan bata ringan. Barang itu didatangkan dari Surabaya dengan kontainer. Biayanya lebih mahal karena ongkos mobilisasi. Satu meter kubik (10 x 10 meter persegi) harganya bisa mencapai Rp1,4 juta. Jika itu dibangun di Palu, biaya satu meter kubik persegi hanya berkisar Rp800 ribu. Lebih irit Rp600 ribu per meter kubik. Inilah peluang yang dilihat oleh kawan saya itu.

Manfaat bata ringan bukan saja irit dari biaya tapi juga cocok untuk kondisi Palu yang kerap diguncang gempa. Bata ringan memiliki sejumlah keunggulan lain seperti tahan panas, kuat dalam tekanan, cepat dalam pembangunan dan tidak banyak menelan semen dan paling penting cocok untuk konstruksi rumah anti gempa.

Kawan saya itu menancapkan bisnisnya di Kota Palu karena melihat tingginya geliat pembangunan perumahan di Palu. Ke depan, ia juga melihat pembangunan gedung di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) membutuhkan material berupa batu bata ringan. Inilah yang saya maksud menangkap peluang menjemput masuknya KEK.

Kapasitas produksi bata ringan yang dibangun kawan itu per hari mencapai 14 meter kubik, setara dengan luasan dinding 140 meter persegi. Industri yang didirikan kawan itu menawarkan dua ukuran bata ringan, ketebalan 10 x 20 cm x 60 cm dan ketebalan 7,5 cm x 20 cm x 60 cm.

Dia memperkirakan jika pembangunan gedung di KEK nanti membutuhkan 100 meter persegi per hari, maka ia bisa memenuhi pasokan material yang dibutuhkan. Industri itu bahkan masih surplus 40 meter per segi per hari. Artinya, industri itu juga masih bisa memasok kebutuhan di luar KEK.

Untuk memenuhi standar kualitas daya tekan, bata ringan yang ditawarkan juga tiga kali lipat lebih baik dari kualitas standar nasional Indonesia. Dengan begitu produksi bata ringan yang ditawarkan kawan itu jauh memenuhi ketentuan spesifikasi bahan baku yang distandarkan pemerintah.

Cerita dari kawan saya di atas hanya bagian terkecil dari banyak hal yang perlu disiapkan dalam rangka menjemput peluang KEK. Inilah yang mestinya juga dididorong oleh pemerintah agar sejak sekarang masyarakat diransang menciptakan peluang usaha menjemput KEK itu. 

Bagaimana caranya? Di sinilah pentingnya keterlibatan banyak pihak membicarakan masalah KEK. Bagaimana menciptakan sistem yang memiliki keterikatan satu sama lainnya sehingga KEK benar-benar berdampak hebat. Misalnya, seluruh fasilitas mebel di kawasan KEK terbuat dari rotan. Mulai dari meja, kursi, lemari, tempat penyimpanan sampah kering sampai pada penataan interior ruang kerjanya. Semua berbahan baku rotan.

Itu penting, industri berbasis bahan baku lokal sudah bisa terserap di KEK sejak awal pembangunannya. Tidak seperti sekarang, ruang-ruang tamu kantor pemerintah dijejali dengan furniture berbahan baku kayu jati dan berbahan sintesis ekspor. Makanya jangan heran jika industri rotan kita selama ini sulit mengakses pasar karena kita sendiri enggan menciptakan pasar.

Pembangunan fisik KEK sejak dini sudah harus didesain dengan mempertimbangkan unsur-unsur kekuatan lokal. Bila perlu kita menyuntikkan desain gedung, pintu gerbang dan ornamennya dengan ciri lokalis sehingga menjadi pembeda dari kebanyak pusat industri lain di tanah air. Ini salah satu nilai jual sekaligus penguatan simbol-simbol lokal di tengah melesatnya peradaban industri di Sulawesi Tengah.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s