“Jantung” Buatan Itu Bernama KEK (bagian 14)

Saya yakin tidak seorang pun masyarakat di Sulawesi Tengah yang ingin Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu gagal. Apalagi kalau program pembangunan kawasan daerah tertinggal itu menyengsarakan rakyat. Sejauh jarak antara bumi dengan langit, lebih jauh lagi bayangan buruk itu. Sebaliknya kekhawatiran itu bisa lebih dekat jika KEK salah urus.

Star pertama KEK akan sangat menentukan masa depannya. Jika salah urus pada awalnya, nanti akan jadi masalah turun temurun di kemudian hari. Sebab itu para pejuang KEK termasuk kita (rakyat) harus bersama-sama melibatkan diri, berpartisipaai sesuai tugas, kemampuan di bidang kita masing-masing.

Para kaum pandai KEK harus rajin menjelaskanya dengan bahasa rakyat. Bahasa sederhana yang enteng,  bukan dengan bahasa yang membingungkan. Jurnalis harus rajin mengabarkan tentang KEK, harus rajin memantau pergerakannya. Akademisi hukum harus mengamati, menganalisa setiap produk hukum yang dikeluarkan untuk kepentingan KEK. Para pelaku bisnis, harus tetap menjaga nasionalismenya, sehingga tidak sekadar mengejar keuntungan semata.

Demikian halnya para ilmuan harus selalu memelototi kebijakan penerapan teknologi KEK. Ahli teknologi informasi, harus memantau kemampuan teknologi informasi yang digunakan di KEK. Ahli ibadah jangan abai mendoakan keselamatan dan keberlangsungan KEK, dan seterusnya.

Tidak kalah pentingnya, kita yang suka konflik, suka berkelahi antardesa, antarkelurahan sudah harus berhenti karena itu hanya mencoreng moreng wajah daerah kita. Orang di luar sana, takut berkunjung ke daerah kita, karena wajah kita sudah identik dengan kekerasan.

Para pengelola dan penentu kebijakan KEK, mulai dari presiden, menteri, pemerintah provinsi, pemerintah kota, dewan kawasan, administrator dan konsorsium perusahaan harus profesional dan jujur dalam melaksanakan kewenangannya. Bukan justru menjadikan peluang ini sebagai jalan untuk berbuat culas, cubit sana, cubit sini untuk kepentingan pribadi dan golongan. Jika itu yang terjadi, bersiaplah kita menjemput kematian KEK itu.

Kita harus berdiri pada tugas-tugas kita masing-masing dan bekerja sesuai kemampuan kita. Meskipun Presiden belum mengeluarkan keputusannya atas KEK tersebut tetapi kita harus membangun optimisme bahwa KEK benar-benar diwujudkan sebagai jantung ekonomi rakyat dan negara. Optimisme itu harus dibangun dengan sikap kritis kita. Bukan dengan diam, apalagi jika hanya mencaci, menyalahkan tanpa solusi, karena itu tak ubahnya kita sebagai pengecut. Singkatnya, KEK harus dibangun dengan gotong royong. Dibangun dengan bahu membahu. Dibangun dengan optimisme.

KEK bagi saya adalah masa depan Sulawesi Tengah, masa depan Indonesia di tengah kompetisi ekonomi global. Bukan tidak mungkin Sulawesi Tengah bisa menjadi kiblat Indonesia nanti.  KEK bukan untuk batas lima atau 10 tahun saja, meski pemerintah menargetkan KEK itu untuk 25 tahun. Bagaimana KEK itu bisa menjadi masa depan yang mencerahkan?

Mari sejenak kita ke Batam, Kepulauan Riau. Saya bersama Komisi II DPRD Sulawesi Tengah pada 21-23 November 2013 masuk ke jantung Badan Pengusahaan Batam sebagai lembaga pengelola zona pasar bebas dan pelabuhan bebas Batam. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana pulau yang dulunya hanya dihuni segelintir nelayan tradisional itu direkayasa menjadi kota maju. Kota yang menjadi pintu gerbang ekonomi Indonesia di Asia Fasifik. Kota yang menjadi katalisator ekonomi di mata negara-negara di Asia.

Kemajuan itu dibangun bukan hanya dalam tempo lima tahun atau 10 tahun, tetapi sudah 42 tahun. Batam yang dulunya rawa, bukit, dan ratusan pulau di sekelilingnya, kini sudah menjadi gerbang ekonomi dengan jumlah investasi sebanyak 1.688.690 USD (2012).

Di sana ada 636 perusahaan yang investasinya dari asing. Perusahaan paling banyak dari Singapura, 427 perusahaan. Selebihnya dari China, Korea, Taiwan dan Malaysia. Investasi dalam negeri baik swasta dan pemerintah, lebih banyak lagi.

Kawasan ekonomi Batam yang pertama kali disebut dengan otorita Batam dirancang pertama kali tahun 1971. Sudah 42 tahun, daerah itu masih terus berbenah agar bisa menandingi Singapura yang hanya beberapa mil di depan Batam. Pembangunan di Batam masih terus berdenyut tiada henti hingga detik ini.

Manajemen pengelolaannya masih terus diperbaharui dengan berbagai inovasinya. Batam kini tidak saja menjadi tempat investasi, tapi juga menjadi tempat penyimpanan data-data penting Indonesia. Data kita semua penduduk Indonesia ada di Batam. Batam merupakan tempat teraman terutama dari ancaman bencana alam berupa gempa.

Batam adalah guru peradaban ekonomi di Indonesia, karenanya tidak salah jika kita belajar di tanah Melayu itu. Dari sisi substansi sebetulnya tidak ada yang beda KEK dengan Otorita Batam. Batam pada awalnya dibangun untuk menyaingi Singapura, karena Singapura sudah melompat cukup jauh. Sementara KEK dibangun untuk kepentingan daerah tertinggal, sehingga kelak distribusi ekonomi di Indonesia bisa merata. Meskipun kebijakan KEK ini terbilang lambat, tetapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Andaikan dulu KEK Palu sudah dibangun bersamaan dengan Otorita Batam, bisa jadi Sulawesi Tengah kini sudah menjadi daerah yang disegani. Karena baru memulai star, maka kita harus bersabar menunggu 40 tahun lagi baru Sulawesi Tengah diperhitungkan di Asia Tenggara. Sekali lagi, titik star pengelolaan KEK paling menentukan.

Saya tahu tidak sedikit orang Sulawesi Tengah yang sudah belajar ke Batam. Pengetahuan mereka tentang pembangunan kawasan ekonomi sudah sarat. Olehnya saya hendak berbagi sedikit informasi tentang pengelolaan ekonomi Batam bagi yang belum sempat ke sana, tapi nanti edisi berikutnya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s