Dari Bilik Kerja Kasman Lassa

Oleh Adha Nadjemuddin 

Rabu, 29 Januari 2014, siang itu kantor Bupati Donggala cukup ramai dari hari biasanya. Ada pelantikan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di aula, lantai dua. Mereka anak-anak muda berdasi, berjas kren. Mereka generasi beruntung karena sukses dalam berbagai bidang usaha. Jadilah mereka pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Donggala. 

Posisi pintu aula tempat anak-anak muda ini dilantik, berhadapan dengan pintu masuk ruang kerja bupati namun diantarai hall. Di ruang tunggu pintu masuk ini juga tidak kalah ramainya. Semua tempat duduk di ruang tunggu itu penuh. Sebagian terpaksa berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Tamu dari berbagai kalangan ini menunggu giliran masuk bertemu bupati Kasman Lassa. 

Hari itu saya juga berada diantara para tamu itu. Kami empat orang hendak menawarkan kerja sama perlindungan hukum kepada masyarakat miskin secara gratis di Donggala. Ini gagasan penting dari Persatuan Advokat Indonesia (Peradin) Sulawesi Tengah untuk rakyat. 

Kami harus menunggu hampir satu jam baru bisa bertemu dengan bupati. Sementara yang lain, masih banyak menunggu antrean di belakang. Begitu sulitnya bertemu pejabat karena semua diatur berdasarkan standar keprotokoleran. 

Ini kali pertama saya berjumpa dengan Kasman Lassa sejak dirinya ditetapkan sebagai pemenang Pilkada Donggala bersama wakilnya Vera Laruni periode 2013/2018 dan dilantik pada 15 Januari 2014. 

Hari itu saya melihat ada nuansa lain dari raut wajah, semangat bercakap dan gaya bertutur Kasman Lassa. Meski gaya kesehariannya dalam menyapa orang tidak berubah, tetapi ada nuansa yang berbeda dari Kasman biasanya. 

Kantung matanya menebal. Wajahnya merah dan kelihatan renyuk. Tanda-tanda keriput di sekujur wajahnya begitu tampak. Hari itu Kasman kelihatan kurang bersemangat. Gayanya yang berapi-api ketika bicara kepada lawan bicaranya, siang itu tidak muncul. Sesekali ia meneguk air mineral, lalu mengusap wajahnya. 

Saya melihat hari itu Kasman Lassa lelah sekali. Bisa saja kurang sehat, namun ia tidak tampakkan di hadapan para tamunya. Dalam beberapa hari terakhir tenaganya memang terkuras. Belum berakhir lelahnya bertarung di pilkada dalam dua putaran, pikiran dan tenaganya tersita lagi oleh persidangan di Mahkamah Konstitusi. 

Belum lepas lelahnya, kembali ia disibukkan dengan acara syukuran kemenangan. Beberapa hari kemudian pelantikan. Belum tuntas konsolidasi, turun ke lokasi banjir, menerima tamu dan menghadiri acara seremonial lain di dalam dan luar daerah. 

Meski begitu, tetapi ciri khasnya yang lain tidak berubah. Tetap berpakaian rapi, stelan dalam dan bitel rambut ke samping. Tidak ada yang berubah dari tampilan luarnya. Malah tambah kren. 

Meski dalam kondisi tidak sehat, Kasman Lassa merespons baik apa yang kami tawarkan. Ia malah mengambil sebuah album catatan, lalu mencatat beberapa hal penting dalam percakapan itu. Karena pentingnya pendampingan hukum kepada masyarakat miskin itu, ia juga mengungkapkan beberapa pokok pikirannya. 

Hari itu batin saya ikut merasakan lelahnya Kasman Lassa. Mungkin karena saya hanya melihat dari aktivitas luarnya saja. Misalnya, banyaknya tamu yang hendak bertemu sampai akhirnya kursi di ruang tunggu pun tak mampu menampung. Apa jadinya, jika kondisi seperti ini berlangsung setiap hari. Sementara tugas utama bupati dipilih rakyat bukan sekadar menerima tamu. Setumpuk harapan rakyat ada di pundaknya. 

Jika Kasman Lassa tidak segera mendistribusi sejumlah kewenangan kepada pejabat lain, maka waktunya akan habis menerima tamu, menghadiri acara seremonial, dan melayani mereka yang berjasa atas kemenangannya. Waktunya akan tersita dalam urusan rutinitas itu. 

Saya masih memaklumi, karena baru dua pekan Kasman dan Vera dilantik. Kepemimpinannya masih dalam nuansa kemesraan. Mungkin saja, ia sudah mengagendakan dalam sebulan ini lebih banyak di dalam kantor karena tuntutan konsolidasi internal pemerintahannya. Itu masih wajar, tetapi ini tidak boleh berlangsung lama. 

Kasman Lassa dan Vera sudah harus membagi tugas dan kewenangan. Agenda atau bidang apa saja yang ia hendel dan bidang apa saja yang dihendel wakilnya. Pembagian kewenangan ini penting, agar duet politik keduanya sama-sama memiliki beban tugas yang berimbang. Tidak boleh ada ketimpangan, apalagi jika hanya sekadar menjadi ban serep. Ini bakal tidak melanggengkan kepemimpinan duet keduanya. Ini berbahaya bagi kelangsungan politik pemerintahan, sementara banyak masalah yang menunggu kebijakan dari tangan keduanya. 

“Pak Kasman, tetaplah engkau semangat. Jika engkau lelah, istirahatlah sesaat agar energimu bertambah baik untuk mengurus daerah kita. Daerah yang luas tiada taranya, tetapi masih sempit dari kemajuan. Selamat bekerja, selamat berbakti,”.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s