Memoriam Penulis Zaman

Oleh Adha Nadjemuddin

“Adha, Anda punya tulisan objek pariwisata di Sulteng? Kalau ada, tulisan itu kita gabung dengan tulisan-tulisan saya. Kita buat buku objek pariwisata Sulteng yang komprehensif,” kata Om Soeria, sapaan Soeria Lasny –wartawan sepuh Sulteng.

Waktu itu kira-kira September 2013 di Press Room Kantor Gubernur. Om Soeria tiba-tiba muncul di ruangan tempat berkumpulnya wartawan itu. Mantan wartawan ANTARA dan Suara Pembaharuan itu datang khusus menemui saya menyampaikan niat baiknya untuk membukukan potret objek wisata di Sulteng. Om Soeria meminta supaya niatnya itu didukung.

Selain teks, Om Soeria juga meminta dukungan foto agar bukunya kelak lebih hidup dengan aneka foto karya teman-teman wartawan. “Saya punya beberapa foto, tapi masih kurang. Saya yakin, teman-teman wartawan pasti punya foto yang bagus,” katanya.

Om Soeria, salah seorang wartawan tulis merangkap fotografer. Tidak sedikit karya foto dan tulisannya menghiasi halaman surat kabar nasional. Berkat karyanya itulah Sulteng terpublikasi ke berbagai pelosok nusantara sejak era 1970-an.

Bagi Om Soeria, kamera baginya ibarat istri. Tidak lengkap rasanya perjalanan Om Soeria jika tidak membawa kamera. Karenanya banyak cerita tentang Sulteng yang telah diabadikannya dengan kekuatan kamera.

Begitu besar niat Om Soeria ingin membukukukan objek wisata di Sulteng dengan pendekatan jurnalistik sehingga bisa membuat objek pariwisata di daerah ini lebih hidup. Lebih renyah bagi pembaca.

Dalam proses pembuatan buku itu sering kali Om Soeria datang ke Press Room. Suatu ketika, ia datang memperlihatkan tata letak buku yang hendak diluncurkan bertepatan hari ulang tahun emas Sulteng, 13 April 2014 itu.

Dalam usia 80 tahun, Om Soeria masih berkarya. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia masih ingin mempersembahkan karya untuk daerah, untuk bangsa. Beberapa kali Om Soeria meminta dikirimi nomor telepon teman-teman jurnalis seperti Basri Marzuki, salah seorang fotografer terbaik yang dimiliki Sulteng saat ini. Sejumlah karyanya sudah pernah ikut kompetisi fotografi di Asia.

Akhir Februari 2014, saya mendapat kabar dari Tasman Banto, juga seorang jurnalis Sulteng yang sudah melintang di jagat media. Melalui Tasman, Om Soeria meminta agar menghubungi percetakan karena buku potret wisata Sulteng karyanya itu siap dicetak.

“Menurut saya, buku itu ekslusif. Hampir setiap halaman terdapat foto. Bukunya tebal sehingga butuh biaya cetak tinggi,” kata Tasman.

Sabtu, 1 Maret 2014, saya kaget membaca status kawan di Facebook, bahwa Bapak Soeria Lasni telah berpulang ke rahmatullah Sabtu sore pukul 16.00 Wita di kediamannya Jalan Basuki Rahmat Palu.

Kepergian Om Soeria seorang adalah kepergian banyak orang karena karyanya. Mereka yang berdedikasi di dunia jurnalistik, berkarya terus menerus hingga akhir hayatnya, telah banyak menceritakan zaman.

Sejak pensiun secara formal dari industri media tempatnya bekerja, Om Soeria menukilkan banyak buku, diantaranya romantika kepemimpinan gubernur di Sulteng dari waktu ke waktu.

Belakangan Om Soeria meninggalkan karya terakhir potret pariwisata yang belum sempat tercetak. Semoga karya-karyanya tak ada matinya. Karya itu terus memompa semangat generasi jurnalis muda di Sulteng. Selamat jalan Om Soeria. Semoga Allah SWT menempatkanmu di surga. Amin.

Jakarta, 2 Maret 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s