Arus Balik Politik Kota Palu (1)

Dua alasan sehingga saya berhasrat ngobrol problem kota, kota kita, Kota Palu. Pertama, saya sudah menjadi warga Palu sejak 1991 dan insya Allah sampai berkalangtanah di sini. Hak, kewajiban politik dan demokrasi kewargaan saya sudah tertanam di kota ini. Sebagian besar oksigen dalam tubuh ini sudah dihirup dari udara Palu yang konon telah tercemar akibat debu-debu jalan dan aktivitas pertambangan emas.

Tidak kalah pentingnya saya bersama keluarga telah belajar banyak dan mengais rezeki dari kota berteluk ini. Pantaslah kiranya, jika saya peduli dengan kondisi Palu. Itu hak sekaligus kewajiban bagi warga negara yang baik hehe

Kedua, dalam beberapa hari terakhir alam pikiran saya seperti terseret-seret ke ruang wacana politik pencalonan wali kota Palu 2015-2020. Saya mulai tercebur ke dalam dinamika politik kota, mulai dari diskusi-diskusi intensif nonformal problem kota, diskusi sosok calon wali kota, deklarasi pencalonan Bustamin Nongtji sebagai calon wali kota 2015-2020 sampai ajakan group diskusi di dunia maya.

Terakhir, Senin malam saya dan sejumlah sahabat menghadiri makan makan bersama Wakil Wali Kota Mulhanan Tombolotutu. Di acara itu, kami banyak bertukar pikiran tentang dinamika kota dari berbagai aspek. Bukan saja problem dari dalam tetapi juga eksternal kota di tengah pergumulan kemajuan global.

Di beberapa forum bahkan di hadapan Wali Kota Palu Rusdy Mastura dan Wakil Wali Kota Mulhanan Tombolotutu, saya melontarkan beberapa kritikan yang lahir kesadaran moral sebagai warga kota yang ingin melihat kota ini semakin baik.

Di tangan keduanya, saya merasakan atmosfir pembangunan kota cenderung laju dari sektor ekonomi. Sementara sektor lain seperti kebudayaan terasa jauh dari sentuhan kebijakan pemerintah kota.

Lihat saja dari diskusi ke diskusi, Bung Cudi– panggilan Rusdy Mastura, sangat bersemangat bicara mengejar pertumbuhan ekonomi. Berhasrat mendorong terbukanya lapangan kerja yang luas dengan beberapa instrumen pendukung seperti kebijakan izin dan lobi-lobi pembangunan hotel kepada swasta, bicara kawasan industri, bicara Kawasan Ekonomi Khusus, bicara pembangunan pusat-pusat belanja, bicara pembangunan investasi fisik ini dan itu.

Cudi dan Mulhanan begitu faseh bicara tentang strategi melejitkan pembangunan kota sehingga bisa berdiri tegak dan sejajar dengan kota-kota lainnya yang lebih maju di Indonesia. Nyaris semua rencana-rencana strategis itu di luar kepala kedua pasangan pemimpin itu.

Apakah itu salah? Tentu tidak. Itu karena desakan pertumbuhan kota. Itu desakan ekonomi masyarakat bahkan tuntutan global dimana nyaris tak ada lagi batas-batas geografis antar negara. Pola pikir kita akhirnya terbentuk akibat tuntutan global baik di sektor jasa maupun kebutuhan bahan baku industri. Ada daerah penyuplai bahan baku, ada daerah penerima bahan baku dan jasa.

Akibat persinggungan kebutuhan global itulah Cudi dan Mulhanan mengarahkan kemudi pembangunan kota ke penguatan infrastruktur ekonomi. Dampaknya, seakan-akan tuntutan kebutuhan kota hanya dari sisi infrastruktur ekonomi semata. Jadilah kita kota yang terlalu emosi mengejar kapital building.

Karena kencangnya wacana pembangunan di sektor ekonomi dan cenderung menempatkan pembangunan fisik sebagai indikator pembangunan, sehingga menggiring pandangan saya seakan-akan kota ini hendak di bangun seperti kota-kota maju di Indonesia dengan pendekatan indikator fisik.

Memang apa yang dikerjakan pemerintah kota, tidak hanya dalam kacamata ekonomi semata. Ada juga di bidang kesejahteraan rakyat seperti pelayanan rumah sakit dan pendidikan. Tetapi jika takarannya ditimbang-timbang kemungkinan belum sebanding dengan isu-isu kebijakan pembangunan di bidang ekonomi.

Isu pembangunan ekonomi sangat laju, sehingga meninggalkan isu bidang lainnya seperti pendidikan, kebudayaan, wisata, keamanan dan politik. Inilah salah satu problem kota yang rasakan saat ini.

Kota Berbasis Pelayanan Dasar

Setiap warga pasti ingin mendapat pelayanan baik. Tidak saja dalam urusan layanan jasa di birokrasi pemerintahan tetapi juga layanan kepentingan dasar dan hak-hak kemanusiaannya seperti ideologi, keamanan, rekreasi, pendidikan, kesehatan, ekonomi, kebebasan berkumpul dan berserikat, air bersih, penerangan dan jalan.

Inilah antara lain kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang membutuhkan pelayanan dari pemerintah sebagai penentu kebijakan dalam mengurus warganya.

Pemenuhan kebutuhan layanan tersebut penting sehingga menimbulkan reaksi dan kesadaran kolektif masyarakat untuk ikut terlibat dalam pembangunan.

Selama hak-hak dasar tersebut tidak terpenuhi, rakyat tidak akan peduli bahkan cenderung membangkang. Inilah antara lain yang diekspresikan masyarakat dengan kurang peduli terhadap rencana-rencana besar pemerintah kota seperti Kota Hijau dan Bersih, Kota untuk Semua dan Keamanan. Di bidang politik, misalnya, rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemilu atau rendahnya kesadaran masyarakat membayar pajak.

Ini yang mesti diselaraskan oleh pemerintah kota antara pemenuhan keinginan masyarakat di satu sisi dan ‘ambisi’ kebijakan pemimpin di sisi lain. Dengan begitu kebijakan pembangunan yang harus diputuskan pemerintah adalah pembangunan partisipatif berbasis pelayanan dasar.

Salah satu mutiara pembangunan yang pantas dan perioritas adalah bidang kebudayaan, karena di dalamnya telah mencakup berbagai aspek seperti sosial, kearifan, ekonomi, antropologi, arkeoligi, politik dan hukum. Memperkuat pembangunan kebudayaan sekaligus mengokohkan kota berperadaban.

Inilah yang kita tunggu dari calon wali kota ke depan dalam mengantarkan Kota Palu menjadi kota berperadaban. Kita tidak butuh tokoh sekadar kepopulerannya namun banci dalam keputusan-keputusan politiknya yang tidak berpihak pada rakyat. Kita tidak butuh pemimpin elit, karena keelitannya ia bisa mengabaikan hak-hak pembangunan dasar warga.

Kita butuh pemimpin arif yang memahami kerisauan warganya. Bukan pemimpin yang lahir dari kebesaran balihonya dan kelimpahan hartanya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s