Arus Balik Politik Kota Palu (2)

Apa yang tertuang dalam edisi kedua ini, semoga bisa mewakili sebagian keluhan batin masyarakat Kota Palu. Sehingga warga kota yang tidak sempat menyampaikan keluhannya bisa terobati meski hanya lewat tulisan ini.

Jika edisi pertama, saya menuturkan secara makro tentang problem pembangunan kota dan solusi penyelesaiannya, edisi kali ini saya berusaha menutur lebih rinci, detail dan ril.

Semoga ini bisa menjadi referensi bagi calon wali kota Palu 2015 mendatang. Ini penting, sehingga para tokoh yang ingin mencalonkan diri menjadi wali kota punya serangkaian catatan problem kota yang harus dijawab. Bukan sekadar janji politik abstrak, normatif, sekadar retorika hampa, tapi setidaknya menjadi kerja-kerja politik ril terkait kebutuhan masyarakat kota.

Pertama, dalam setahun terakhir saya merasa tidak nyaman ke sana-kemari di jalan raya, apalagi jika menjelang pukul 23.00 sampai dini hari. Saya ngeri dengan beberapa rentetan peristiwa bentrok antarwarga, jambret di tengah kota, warga melintas di jalan raya dipanah dari samping, bahkan ada yang ditebas parang dari depan membuat pipinya robek hingga akhirnya dirawat intensif di rumah sakit dengan 11 jahitan. Wajah korban yang dulunya mulus, kini tergores luka. Pedih hingga berbekas permanen. Kekejaman aksi di jalanan itu menjadi cerita buram tentang keamanan kota. Celakanya pelaku tak kunjung diketahui.

Beberapa hari lalu, seorang warga yang melintas di Jalan Rajawali, dijambret dari belakang menjelang petang. Tasnya dibawa kabur. Orang itu teriak setengah mati berharap pertolongan orang. Tapi naas pelakunya kabur bersama barang jambretnya.

Beberapa bulan sebelumnya, dompet istri saya dijambret pengendara sepeda motor saat berboncengan dengan adik perempuannya. Peristiwanya di bundaran Taman Gedung Juang Palu. Peristiwanya siang hari pula. Dompet dibawa kabur beserta isinya. Beruntung istri saya tidak dibawa kabur.

Dari beberapa rentetan kejadian itu, begitu terasa terjadinya perpindahan kriminal dari kota ke kota. Kekerasan kota pun ikut bertransmigrasi. Jambret yang dulunya hanya dikenal di kota-kota besar, kini sudah menjangkit ke Kota Palu, sebuah kota kecil yang indah di kaki bukit, di pojok teluk.

Akhirnya kita dihantui dengan peristiwa kriminal itu. Jalanan pun kini menjadi horor bagi warga kota Palu. Horor jambret, horor pembusuran, horor penebasan di atas kendaraan, horor pemblokiran jalan karena bentok antarwarga.

Satu lagi horor yang tidak kalah menakutkan adalah horor kecelakaan lalulintas. Tidak sedikit peristiwa kecelakaan terjadi karena pengendera yang suka melanggar etika berlalulintas. Seenaknya menarik gas motor tanpa mempertimbangkan keselamatan orang lain. Seenaknya menyalib kendaraan di depan. Seenaknya menurunkan penumpang di jalan. Seenaknya parkir. Tidak mau mengalah sebentar, memberi kesempatan pengendera yang berbelok. Seenaknya menabrak lampu merah, dan seterusnya, dan seterusnya.

Diakui atau tidak, itulah potret warga kota yang saya rasakan. Itulah potret diri kita yang tercermin dari adab berlalulintas. Itulah gambaran ambisi kita yang suka menabrak aturan. Itulah gambaran ambisi kita yang tidak mau mengalah. Itulah miniatur kekerasan kita. Semuanya tercermin di sana, di atas jalan raya.

Aman dan nyamankah hidup kita sebagai warga kota dengan berbagai ancaman itu? Tentu tidak. Kita selalu dihantui berbagai peristiwa mengerikan. Mulai dari pembusuran, ancaman konflik, sampai problem berlalulintas.

Perasaan kita selalui dihantui macam-macam. Jangan-jangan kita melintas di jalan, juga dipanah dari belakang, dibusur dari samping atau ditebas dari depan dan belakang. Atau ditabrak dari belakang oleh pengendara lain karena lalai dari adab berlalulintas. Begitu hebatnya problem di kota kita, kota tercinta, Kota Palu.

Sungguh ini ironi di tengah kita sudah asyik bicara kebutuhan global. Di tengah tingginya mimpi-mimpi kita menjadi kota industri dan jasa. Di tengah masifnya kita bicara teknoligi digital. Di tengah hebatnya kita bicara pasar bebas masyarakat ASEAN (EAC). Tapi kita masih ditekan rasa takut aksi kekerasan di jalan raya.

Kekerasan di jalanan masih menjadi ironi di tengah asyiknya kita bercerita politik. Ironi di tengah asyiknya kita berdikusi tentang impor-ekspor pertambangan. Ironi di tengah hebatnya kita berpidato di panggung-panggung politik tentang perjuangan hidup aman dan nyaman.

Rentetan kasus per kasus menunjukkan betapa kebutuhan dasar kita sebagai warga kota di bidang keamanan tidak terpenuhi. Kita dihantui rasa takut. Kondisi ini jelas, bahwa pemerintah kota masih kurang menjamin rasa keamanan warganya. Bahkan mungkin, terancam ‘gagal’ memberikan perlindungan.

Ini masalah serius karena keselamatan jiwa adalah kebutuhan semua manusia dan hak asasi untuk dilindungi. Tak ada manusia di dunia ini yang tak butuh perlindungan keamanan. Penjahat pun butuh perlindungan agar kejahatannya tidak digaruk-garuk aparat dan seterusnya. Begitu pentingnya rasa aman itu bagi masyarakat.

Kita rindu rasa aman, sehingga kemanapun kita berjalan, tak ada yang membidik dengan busur. Tak ada yang menakut-nakuti dengan bentrok. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sehingga kita nyaman, aman dan tenang.

Tak ada gunanya kita menjadi kota industri, tak ada hikmahnya kita menjadi kota jasa bergengsi di Indonesia timur, jika di sana sini nyawa terancam. Hidup dalam ketidaktentraman atau hidup dalam kondisi takut. Lebih baik kita menjadi kota dengan kearifannya sendiri, tetapi nyaman dan aman. Kita rindu, tatkala lupa mengunci pintu siang hari dan malam hari tak ada yang menyantroni rumah. Kita rindu suana damai, setiap kita bertemu saling melempar senyum dan menyapa. Bukan dengan kebengisan.

Kita ingin kota ini dibangun dengan dimensinya yang humanis, dengan keindahan alamnya yang ramah, dengan kemajuan kecerdasan masyarakatnya yang bijak, bukan dengan kemajuan intelektual yang congkak. Bukan pula dengan keangkuhan gedung industri yang menggersangkan nilai-nilai kebaikan warganya.

Dengan begitu, jelas sudah bahwa salah satu tugas wali kota ke depan adalah memberikan rasa aman terhadap warganya, terhadap tamu-tamunya, terhadap investasi warga, terhadap keberlangsungan beribadah dan seterusnya. Jika ini tidak bisa diselesaikan, tak kunjung ditemukan solusinya, bagaimana mungkin kami bisa memilih Anda menjadi pemimpin di kota kita.

Itulah mengapa, pentingnya kita meletakkan dasar pembangunan Kota Palu berbasis pelayanan dasar berdimensi kebudayaan, agar kota ini maju dengan kearifan lokalnya.

Inilah yang penting diletakkan, dikokohkan, ditancapkan sedalam-dalamnya, sehingga kota ini benar-benar siap lahir batin menjemput peradaban industri atau kapital building. Semoga bisa dan ada yang bisa melakukannya. Maafkan saya jika ini salah.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s