Olga dan Keprihatinan Sosial

Mata ibu saya berkaca-kaca setelah menyaksikan tayangan pemakaman Olga Saputra, 28 Maret 2015. Tentu saja saya kaget, kenapa ibu begitu “ngefans” dengan Olga. Tanpa saya tanya, ibu mengutarakan sejumlah kebaikan almarhum yang pernah ia saksikan melalui layar kaca.

“Olga itu perhatian sama anak-anak yatim piatu. Dia ikut susah melihat orang susah.

Makanya dia selalu bantu panti asuhan,” kata ibu.

Beberapa bulan sebelum kepergian Olga, ibu sering bertanya ke saya. Bagaimana kabarnya Olga? Kenapa tidak pernah lagi muncul beritanya di tv? Bukankah dia itu aktris yang baik, aktris yang peduli.

Suatu ketika, kira-kira sebulan lalu, saya memancing kepedulian ibu terhadap Olga. Saya katakan, Olga sudah meninggal. Ibu kaget, aktris yang dia kagumi pergi begitu cepat.

Setiap selesai solat dan ibadah lainnya, ibu selalu menunggu berita infotainment. Menonton tv, mencari info soal Olga. Suatu hari saat pulang kerja, ibu meminta ditunjukkan berita wafatnya Olga. Dalam hati, saya sudah berdosa berbohong ke orang tua.

Ibu saya orang kampung. Tidak kenal internet. Ibu kenal Olga hanya lewat layar kaca. Ibu tidak pernah merasakan bantuan apapun dari Olga. Tapi begitu ibu kagum dengan sosok Olga. Bagaimana dengan mereka yang merasakan langsung uluran tangan Olga, tentu saja sangat kehilangan. Kehilangan yang mendalam. Itulah mengapa, lautan manusia mengantar Olga ke pemakaman.

Bagi ibu, Olga adalah malaikat bagi orang-orang yang belum beruntung secara ekonomi. Olga adalah tauladan bagi aktris yang hanya menghambur-hamburkan kekayaannya untuk kepentingan pribadi dan kepopulerannya. Olga adalah tauladan bagi orang kaya, yang hanya suka menimbun harta tanpa peduli dengan orang-orang miskin. Begitu banyak dari kita yang memiliki harta berlimpah tapi tidak punya panti asuhan. Tidak peduli dengan kehidupan orang-orang yang belum beruntung.

Kepedulian sosial pantas dibumikan di tengah banyaknya ancaman keterpurukan ekonomi bangsa. Peduli sesama perlu dirawat untuk menyelamatkan problem ekonomi masyarakat miskin. Negara kita sedang membutuhkan kepedulian kita. Peduli di tengah ancaman naik turunnya harga BBM, tidak stabilnya nilai tukar rupiah, di tengah banyaknya pencari kerja bahkan di tengah ancaman ketidakadilan hukum terhadap pelaku koruptor.

Kita butuh kepedulian yang lahir atas keprihatinan sosial, bukan kepedulian karena kepentingan politik jelang pilkada atau pemilu, tetapi kepedulian yang sesungguhnya tanpa embel-embel ini dan itu.

Terima kasih ibu. Engkau telah memberikan pendidikan tentang kepedulian sosial melalui sosok Olga. Semoga doa-doa ibu diijabah hingga mengantarkan anakmu ini menjadi orang sukses dan selalu peduli. Amiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s