PLN dan Adab Pelayanan Publik Kita

Acil, tetangga saya, Minggu malam emosinya memuncak. Selain anaknya dirawat di rumah sakit karena demam berdarah, rumahnya juga lampu padam dengan beberapa deretan rumah tetangga lainnya. Aliran listrik sebagian di kompleks itu padam sore hari jelang magrib. Anak-anak melihat ada percikan api menyembur dari tiang listrik. Seketika lampu padam.

Sebuah mebel kecil di samping rumah Acil, terpaksa berhenti beroperasi karena umumnya peralatan yang dipakai hanya bisa digerakkan dengan aliran listrik. Karena listrik padam, semua pekerjaan macet.

Tetangga lainnya menelpon ke PLN hendak menyampaikan bahwa sebagian aliran di kompleks perumahan BTN Puskud padam. Berkali-kali di telepon tidak ada yang angkat. Masuk magrib, aliran listrik belum juga mengalir.

Jelang pukul 21.00 Acil pulang dari rumah sakit. Dia dapati rumahnya dalam kondisi gelap. Bapak dua anak itu menelpon ke PLN. Jawaban dari balik telepon bahwa semua mobil dan petugas turun lapangan. Perasaan Acil kurang senang. Ia pun segera meluncur ke kantor ranting terdekat. Untuk memastikan bahwa memang tidak ada petugas di sana.

Emosi Acil memuncak saat tiba di kantor ranting PLN. Betapa tidak, dia dapat ternyata mobil dan sejumlah personil ada di sana. Jauh berbeda dengan jawaban dari balik telepon. Lebih menjengkelkan lagi, Acil temukan beberapa petugas hanya main kartu joker. Uhhh pasti sangat menjengkelkan. Untung Acil masih bisa menahan amarahnya sehingga tidak terjadi sesuatu di kantor itu. Sekitar 25 menit kemudian barulah petugas datang ke lokasi sekitar pukul 22.00 WITA.

Hampir enam jam penanganan baru dilakukan. Untungnya bukan orang sakit yang ditangani. Jika itu orang sakit mungkin sudah meninggal baru dokternya datang. Sungguh terlalu.

Sehari sebelumnya, aliran listrik di Radio Nebula, Jalan Watukanjai juga padam. Aliran dari tiang ke kompleks radio itu putus. Kejadiannya Sabtu pagi. Sampai pukul 22.00 belum ada petugas PLN yang datang.

Coba bayangkan, karena tidak sigapnya petugas PLN berapa banyak iklan di radio itu tidak terputar. Industri radionya rugi, pemilik iklan rugi, penyiar rugi karena mereka menerima gaji dari banyaknya jam siaran.

Tidak hanya radio saja yang padam, tapi di markas wartawan di kompleks itu juga padam karena listriknya satu aliran. Wartawan yang hendak membuat berita terpaksa kocar kacir cari tempat yang aliran listriknya berfungsi.

Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Palu Ridwan Lapasere sudah meradang. Sudah beberapa kali di telpon ke unit pengaduan gangguan tidak ada respons. Alasan petugas, lagi-lagi soal klasik, petugas sedang turun lapangan semua. Tidak puas dengan itu, Ridwan bahwakan sudah mengirim pesan singkat ke Kepala PLN Palu. Tetap juga tidak ada tindakan.

Tadinya saya berpikir, setelah Dahlan Iskan menjabat Dirut PLN, tradisi pelayanan di PLN sudah berubah. Ehh, malah tambah parah. Banyak sekali saya menerima keluhan, ketika lampu padam, aliran telepon di PLN bernada sibuk. Entahlah, apakah disengaja atau memang karena benar-benar sibuk.

Suatu ketika kami secara bergantian menelpon ke layanan gangguan. Tapi sampai telepon seluler kami kehabisan baterai menghubungi pelayanan itu, telepon yang dituju tetap saja nada sibuk. Luar biasa. Pelayanan PLN ternyata belu berubah. Masih begitu-begitu saja. Kapan kita bisa senang dengan pelayanan publik, jika kondisinya begitu terus. Kapan? Entahlah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s