Politik Daging Sapi

Oleh Adha Nadjemuddin

Hampir dua pekan terakhir, daging sapi menjadi berita menarik media nasional. Harganya tiba-tiba melompat tinggi dari Rp120 ribu hingga hampir menembus Rp150 ribu per kilogram. Dampaknya menjalar kemana-mana. Bukan saja terhadap kebutuhan konsumsi rumah tangga, tapi juga kepada pelaku usaha kuliner berbahan daging sapi. Mereka sulit mencari daging sapi yang murah seperti pada kisaran Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram.

Pedagang daging pun ikut kena imbasnya. Banyak pedagang mogok menjual karena sapi kian sulit diperoleh. Peternak didera kesulitan pakan karena rumput mengering akibat kemarau.

Itu baru beberapa bulan kemarau berlangsung, dampaknya sudah meluas. Tentu saja dampak kemarau juga menghajar air bersih dan daerah irigasi untuk kepentingan persawahan.

Bagaimana kalau kemaraunya berlangsung satu, atau dua tahun? Jangan sampai Ya Allah. Itu bukan lagi ujian, tapi sudah malapetaka. Semoga Allah tidak menurunkan kemarau berkepanjangan di Indonesia tercinta ini.

Sebaiknya kita memetik hikmah di balik peristiwa kemarau yang menyasar belahan bumi Indonesia itu. Setidaknya satu hikmah penting yang harus dipetik adalah pentingnya penguatan tata kelola peternakan sapi khususnya di Sulawesi Tengah.

Tampaknya daging sapi menarik jika ditarik ke arena politik bisnis untuk penguatan ekonomi dan pangan, mengingat saat ini memasuki momentum pemilihan kepala daerah.

Di Sulteng, sebanyak delapan kabupaten/kota akan menggelar pemilihan kepala daerah dan pemilihan gubernur pada 9 Desember 2015. Tentu saja kita juga ingin tahu dari para calon kepala daerah, bagaimana kepedulian mereka terhadap dunia peternakan sebab tidak sedikit masyarakat menggantungkan ekonominya dari sektor ini.

Tentu saja kita butuh calon kepala daerah yang tidak saja peduli dengan masalah sosial, tetapi juga pada sektor lainnya seperti pertanian khususnya subsektor peternakan. Sebab itulah kita perlu menggali lebih dalam kebijakan apa yang akan ditempuh calon kepala daerah untuk ketahanan daging di daerahnya ke depan.

Cerita daging sapi, mengingatkan saya kepada almarhum ayah Nadjemuddin. Suatu ketika ia bekerjasama dengan saudagar sapi di kampung. Almarhum melibatkan diri dalam perdagang sapi ke Kalimantan. Sapi dibeli dari kampung ke kampung di wilayah Donggala, lalu diangkut dengan kapal kayu ke Kalimantan. Sapi-sapi itu dijual di sana.

Tradisi bisnis tersebut berlangsung sekitar awal tahun 1990-an. Seingat saya, waktu itu harga seekor sapi masih berkisar Rp3 juta sampai Rp4 juta per ekor. Di Kalimantan dijual Rp5 juta sampai Rp6 juta per ekor. Lumayan untungnya, tetapi risikonya juga besar karena hanya mengandalkan transportasi kapal kayu berbobot 10-15 gross ton.

Tata kelola peternakan khususnya sapi menarik didiskusikan. Peluang bisnis peternakan kian menjanjikan, karena daging sapi dari tahun ke tahun tidak pernah turun. Justru sebaliknya cenderung naik apalagi menjelang Idul Fitri atau hari raya Idul Adha, kebutuhannya bisa dua kali lipat dari hari-hari biasanya.

Potensi pasar daging tidak saja di luar daerah tapi juga dalam daerah. Di Kota Palu saja sejumlah hotel butuh pasokan daging yang tidak sedikit per harinya. Pelaku usaha kuliner juga begitu. Demikian halnya kebutuhan rumah tangga.

Setiap orang idealnya mendapat asupan protein hewani 26 gram per hari. Tetapi di Sulteng masih berkisar empat gram per hari. Dengan penduduk Sulteng yang sudah hampir tiga juta orang, maka kebutuhan daging setiap harinya sekitar 120 ton per hari. Ini kebutuhan yang tidak sedikit.

Jika kita mengasumsikan satu ekor sapi seberat 300 kilogram untuk sapi lokal, itu artinya kita butuh 400 ekor per hari. Hemmm, itu bukan jumlah sedikit. Jika kita konversi lagi dalam bentuk uang dengan asumsi Rp8 juta per ekor, maka uang yang beredar untuk kebutuhan daging sebanyak Rp3,2 miliar per hari.

Hitung-hitungan kasar tersebut, menunjukkan bahwa bisnis daging sapi memang sangat menjanjikan. Lalu kenapa pemerintah daerah provinsi dan kabupaten kelihatannya belum begitu serius mengurus peternakan. Padahal kita punya pakar peternakan yang berjejer di Universitas Tadulako. Setiap tahun, perguruan tinggi itu meluluskan ratusan sarjana peternakan. Apakah memang sarjana diciptakan semuanya untuk menjadi pegawai negeri saja? Tentu saja tidak.

Salah satu indikator belum diliriknya peternakan menjadi andalan daerah, tidak adanya industri peternakan yang masuk di daerah ini. Padahal katanya, daerah kita sangat luas. Banyak lokasi stragis yang bisa jadi pusat peternakan.

Perusahaan daerah yang didirikan pemerintah belum melirik peternakan sapi sebagai sebuah potensi bisnis. Perusahaan daerah justru lebih tertarik dengan bisnis pertambangan atau bisnis kayu. Bukankah pertambangan dan kayu terkesan eksploitatif.

Tetapi perhatian Gubernur Sulteng Longki Djanggola untuk swasembada daging di satu sisi layak dipuji, meski di sisi lain perlu diperbaiki. Karenanya tidak heran populasi sapi terus ditingkatkan setiap tahunnya. Pada 2013 populasi sapi sudah mencapai 249.980 ekor. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dari target swasembada 240 ribu ekor. Populasi tersebut terus meningkat pada 2014 dengan target populasi sebanyak 262 ribu ekor.

Keberhasilan Gubernur Longki Djanggola bersama wakilnya Sudarto dalam menggenjot populasi sapi potong selama ini memang terkesan kurang terpublikasi. Entalah, mungkin saja berita sapi kalah populer dengan berita politik, kasus korupsi, pembangunan mall dan wacana seksi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Padahal sejatinya, upaya ke arah peningkatan produksi daging sapi telah dilakukan Longki/Sudarto, namun belum ditindak lanjuti oleh pelaku dunia usaha. Peran pelaku dunia usaha sangat dibutuhkan karena tidak mungkin semua diserahkan ke pemerintah.

Gubernur Longki/Sudarto telah berusaha menguatkan pondasi politik daging sapi, jauh hari sebelum krisis daging sapi menjadi seksi dibicarakan media belakangan ini.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s