Mencederai Diri Sendiri

Oleh Adha Nadjemuddin

Pertarungan politik jelang pilkada serentak sudah teramat ramai. Dulu, pertarungan itu lantang di dunia nyata. Setidaknya 10 tahun terakhir telah bergeser ke dunia maya. Lajunya perkembangan teknologi dan informasi, menjadikan komunikasi semakin efektif dan efisien khususnya. melalui media sosial. Melalui media ini informasi sangat cepat tersebar bahkan menjangkau sampai ke tempat tidur hanya dalam waktu singkat.

Umumnya pengguna teknologi android, menjadikan alat itu sebagai pengantar tidur. Saking asyiknya, pasangan di samping pun kadang dicuek. Bahkan sahabat lama yang baru ketemu, hanya berbincang beberapa saat, tak lama kemudian sudah sibuk masing-masing

mengutak-atik androidnya. Masing-masing sibuk melototi akunnya. Membuka berbagai informasi melalui beragam fasilitas yang tersedia, seperti group facebook dan blackberry. Sehari tidak mengunjungi group, terasa kita tertinggal jauh dari informasi. Saya juga merasakan itu.

Jadilah media sosial sebagai alat propaganda berpengaruh beragam kepentingan. Dari kepentingan bisnis, curahan hati, politik bahkan kepentingan seks. Sesuai momentumnya, hari ini media sosial menjadi alat propaganda politik untuk kepentingan kemenangan calon kepala daerah.

Selama mengenal facebook pada 1999, saya telah bergabung di hampir 150 group. Beragam informasi pun mengalir deras. Belakangan paling ramai group berbau politik. Saling mengunggulkan calon menjadi sajian menarik. Tidak sedikit pula memanfaatkannya untuk saling menyerang. Mengekspresikan kekecewaan pribadi dan sebagainya.

Bahkan kerap memunculkan debat yang tak elegan lagi, tidak mendidik, emosional, bahkan berkata-kata tidak sepantasnya. Merasa diri paling hebat dan benar, yang lain salah. Lebih celaka lagi, ada yang saling ancam hendak bakutikam lantaran ada komentar yang membongkar bau busuk jagoannya. Mereka berjanji bertemu di dunia nyata. Mengerikan.

Karakter manusia memang berbeda antara satu dengan lainnya. Itu berlangsung alamia. Ada yang emosional, ada pula yang dingin. Ada yang suka bercanda, ada pula yang serius. Ada yang cepat menangkap maksud, ada pula yang lelet.

Begitu juga dengan karakter calon kepala daerah. Ada yang reaktif cenderung emosional. Ada yang tidak mau pusing. Ada politisi murni, pengusaha, ada pula birokrat. Cara pandangnya pastilah berbeda. Dalam karakter yang berbeda itulah, mereka didebatkan di group dunia maya oleh karakter anggota yang berbeda pula. Potensi caos pasti sangat besar.

Siapa yang kita serang? Siapa yang kita umbar aibnya? Siapa yang kita anggap bodoh? Mereka adalah para tokoh daerah yang sedang menjajal kemampuan kepemimpinannya melalui perebutan kursi kepala daerah. Mereka punya niat baik untuk negeri ini. Mereka adalah aset kita yang kita cederai sendiri. Karena ambisi, eemosi, fanatisme berlebihan jadilah kita anak bangsa yang suka mencederai sesamanya. Kita akhirnya mencederai diri kita sendiri.

Bukankah mereka yang lolos menjadi calon kepala daerah adalah orang-orang pilihan. Orang hebat. Orang berkemampuan. Sementara kita, belum tentu bisa seperti mereka.

Siapa pembaca dominan dunia maya? Mereka adalah generasi SMP, SMA dan mahasiswa. Mereka generasi rentan meniru. Setiap hari mereka membaca debat-debat konyol generasi pendahulunya. Tentu saja kita tidak ingin mewariskan politik arogansi yang suka mencederai antarsesama. Kita ingin mereka tumbuh sebagai generasi pewaris politik santun yang mendidik dan mencerdaskan.

Politik ya politik. Tidak mesti merusak tatanan persahaban. Merobek-robek persaudaraan. Memutuskan tali silaturahim antarsesama. Merenggangkan hubungan orang tua dengan anak. Antar murid dengan guru, antar pemimpin umat dengan umatnya atau pun antar kiyai dengan kiyai hanya karena berbeda pilihan.

Politik adalah jalan menuju perbaikan. Politik adalah sarana untuk mencapai tujuan mulia, mensejahterakan rakyat. Politik adalah beranda depan untuk mencapai tujuan kesejahteraan rakyat. Bukan jalan saling menyengsarakan. Bukan pula pintu untuk saling hajar dan menjatuhkan.

Dengan politik kita bisa maju, bukan saling memundurkan. Dengan politik kita bisa memperbaiki yang rusak, bukan menambah yang sudah rusak menjadi lebih rusak. Dengan politik kita bisa daratkan cita-cita luhur bangsa, adil, makmur dan sejahtera.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s