Dari Generasi Untuk Tolitoli (1)

Oleh Adha Nadjemuddin

Tak terasa lima tahun sudah saya meninggalkan Tolitoli, setelah sebelumnya hampir lima tahun berdialektika dengan daerah penghasil cengkeh itu. Meski hanya sedikit waktu, tetapi Tolitoli banyak memberikan pelajaran berharga, belum sebanding dengan apa yang pernah saya dedikasikan untuk sepotong negeri yang kaya dengan sumber daya alam itu.

Pengalaman saya selama mengabdikan diri untuk menggerakkan potensi desa melalui kewenangan yang diberikan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal sebagai konsultan daerah tertinggal, menyimpulkan betapa banyak

hal yang membutuhkan kebijakan pemerintah pro pembangunan desa.

Semoga satu, dua, tiga alinea dalam tulisan ini tidak dianggap “menyepelekan” sumber daya teman-teman di Tolitoli, sebab saya tahu di sana banyak generasi terpelajar dan berdedikasi tinggi.

Pikiran-pikiran cerdas sahabat-sahabat di Tolitoli tidak bisa dianggap sepele. Sayangnya, mungkin gagasan itu belum diakomodir baik oleh penentu kebijakan. Ibarat air, gagasan itu menemui jalan buntu hingga akhirnya tersumbat sehingga keluar bukan melalui jalan yang dikehendaki.

Setidaknya, ini menjadi catatan penting bagi para calon bupati Tolitoli, bagaimana menjadikan potensi sumber daya manusia di Tolitoli sebagai pilar penting dalam mencapai tujuan pembangunan yang diinginkan. Pelibatan generasi cerdas yang berintegritas menjadi penting. Pemerintah harus memberikan ruang lebih dari cukup untuk generasi muda. Jangan membiarkan generasi potensial itu sebagai penonton di negeri sendiri.

Generasi-generasi handal inilah yang akan diterjunkan ke pelosok-pelosok desa untuk membantu pemerintah menggerakkan potensi di sana. Apalagi ke depan, arah pembangunan sudah berbasis pedesaan sehingga perlu disiapkan sumber daya yang handal.

Kita berikan kesempatan mereka berkarya membangun negeri sendiri. Berikan kepercayaan yang luas kepada mereka untuk ikut terlibat mendesain, melaksanakan, mengorganisir dan mengeksekusi kebijakan yang telah mereka rancang bersama-sama masyarakat. Nanti akan kita lihat bagaimana dampaknya tiga, empat tahun setelahnya. Pasti lebih baik. Saya percaya itu.

Makanya kita butuh kebijakan pemerintah dan DPRD men-support mereka melalui dukungan APBD. Lebih baik kita gelontorkan dana 2-3 persen dari APBD untuk mendukung program tersebut dibanding membiayai kegiatan seremonial yang kurang memberi manfaat.

Di tangan merekalah kita melimpahkan sebagian kewenangan pekerjaan pemerintah daerah untuk memperkuat konektivitas antar kecamatan dan desa, sebab potensi terbesar kabupaten itu berada di kecamatan dan desa.

Dari karya generasi muda itulah kita harapkan Tolitoli tumbuh merata sehingga memberi efek besar di berbagai bidang. Saya membayangkan, setiap kecamatan tumbuh menjadi daerah besar dengan karakternya sendiri sehingga kecamatan tidak kalah bersaing dengan kemajuan kota.

Sebagai contoh, dulu saya bersama masyarakat Lingayan dan sekitarnya, merancang pulau kecil itu menjadi basis produksi rumput laut terbesar di Tolitoli. Program itu kami rancang untuk jangka pendek, menengah hingga jangka panjang. Perkiraan kami, dalam lima tahun, Lingayan akan berkibar menjadi daerah pemasok rumput laut bahkan berdiri industri kecil di sana.

Melalui jaringan yang saya miliki, pemerintah pusat akhirnya menggelontorkan uang hampir satu miliar satu tahun pertama. Dengan anggaran itu, mulailah kami bekerja. Sayang seribu sayan, karena ada segelintir orang yang hanya mau mencari keuntungan pribadi, rencana ini gagal. Makanya kita butuh generasi cerdas yang berintegritas sehingga bisa mengawal rencana secara berkelanjutan dan bertanggungjawab.

Di desa lain, di Kecamatan Sidondo, kami ingin mendesain sebagian wilayah itu sebagai daerah pemasok sayur mayur. Ambisi itu kami tanamkan di kepala masyarakat bahwa kita akan menjadi daerah penghasil sayur mayur yang bisa masuk sampai ke pasar modern. Dengan sumber daya manusia yang terbatas kami rancanglah rencana itu. Lobi-lobi anggaran pun dilakukan.

Di kecamatan lainnya di wilayah utara Tolitoli kami mendesain sebagian wilayah itu jadi basis peternakan. Rencana sudah disusun. Tapi kami terkendala pada sumber daya manusia. Bayangkan untuk menggerakkan potensi itu saya hanya sendiri menjadi mentor. Mana bisa efektif bisa mencapai target.

Jika kita melibatkan lebih banyak lagi sumber daya, lalu diakomodir pemerintah dengan di-back up APBD, saya percaya daerah-daerah potensial itu bisa bangkit tiga atau empat kali lebih cepat dari sekadar sentuhan biasa yang dilakukan pemerintah selama ini.

Itu kira-kira gagasan saya ke sahabat-sahabat muda Tolitoli melalui group diskusi Tolitoli ini. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi agenda bersama kaum muda. Agenda bersama tim sukses di masing-masing calon bupati sehingga siapapun nanti bupatinya, gagasan kecil ini bisa diakomodir.

Tabee… Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s