Dari Generasi Untuk Tolitoli (2)

Oleh Adha Nadjemuddin

Waktu itu, tahun 2008, kripik pisang dan sukun dari Tolitoli laris manis. Produk makanan olahan ini sudah ter-branding bagus karena didukung kualitas produksi bahkan paking yang baik.

Setiap tamu berkunjung ke daerah penghasil cengkeh ini, menjadikan kripik itu sebagai oleh-oleh andalan, selain ragam kerajinan cengkeh. Tak lengkap rasanya berkunjung ke Tolitoli jika tidak membawa kripik pisang maupun sukun.

Suatu hari, kripik sukun sulit diperoleh. Pasokan bahan baku dari beberapa desa terlambat masuk ke industri. Akibatnya, kripik sukun langka. Meski demikian namanya tidak lekang karena cirinya yang gurih dan renyah.

Harganya juga stabil meski mengalami kelangkaan bahan baku. Beda dengan kebutuhan bahan pokok, saat terjadi kelangkaan biasanya harga juga naik. Tapi kripik tetap bertahan stabil.

Karena sudah ada dua, tiga konsumen mengeluh, rasa penasaran pun muncul ingin melihat langsung tempat pengolahannya. Saya mengunjungi rumah produksi di Malosong, Kelurahan Baru. Saya juga mengunjungi produksi kripik di Tuweley.

Dari hasil kunjungan itulah saya menyimpulkan pentingnya penguatan industri rumahan berbasis pertanian, seperti kripik. Ketika itu sukun jadi mahal karena pasarnya tidak saja di Tolitoli tetapi sudah menembus pasar Kalimantan. Ditambah lagi pembudidaya sukun masih terbatas.

Di Kalimantan, sukun sebesar toples, berat sekitar 1,5 kilogram harganya sampai Rp10 ribu per biji. Di Tolitoli hanya Rp5.000 per biji. Pasar di Tolitoli lebih banyak diserap untuk kripik. Selebihnya untuk sayur mayur. Karena harganya yang membaik itulah pebisnis buah-buahan memburu sukun dijual ke Kalimantan.

Setelah melengkapi kunjungan saya ke beberapa desa berbasis pertanian seperti di Basidondo, Dampal dan sebagian desa di wilayah utara Tolitoli, tibalah pada kesimpulan pentingnya program penguatan industri berbasis pertanian. Fokusnya pada sukun dengan membuat kebijakan tata kelola yang di-back up oleh peraturan bupati sehingga produk ini benar-benar terurus dari hulu sampai hilir.

Melalui bantuan teman-teman generasi muda, kami berupaya gagasan sederhana ini bisa diakomodir pemerintah. Disusunlah rencana umumnya. Diskusi dari satu tempat ke tempat lain mulai digarap. Lobi ke pejabat eksekutif dan legislatif pun mulai digencarkan.

Tapi sayangnya buntu. Gagasan ini tidak bisa didaratkan menjadi kenyataan. Jadilah gagasan ini hanya sebatas gagasan. Belum bisa diwujudkan karena respons pemerintah relatif rendah. Mungkin karena tidak bernilai proyek sehingga kurang diapresiasi.

Kenapa memilih sukun (artocarpus altilis) sebagai program unggulan?

Pertama, buah ini memiliki banyak kandungan karbohidrat, vitamin A dan B komplek. Komposisi kandungan gizi sukun lebih tinggi dibanding bahan pangan lainnya seperti ubi jalar, kentang dan jagung. Dalam 100 gram, tepung sukun mengandung 3,6 gram protein, 302 kalori dan 78,9 gram karbohidrat.

Bandingkan dengan jagung, dalam 100 gram hanya terdapat 4,1 gram protein, 129 kalori dan 30,3 gram karbohidrat. Kentang dan ubi kayu lebih rendah lagi. Dengan demikian sukun bisa diandalkan menjadi cadangan pangan yang baik.

Selain itu secara tradisional sukun juga dapat menjadi obat jantung, ginjal, sakit gigi dan gatal-gatal. Konon di Taiwan menggunakan akar dan batang sukun sebagai pengobatan alternatif penyakit hati dan hipertensi.

Kedua, sukun dapat tumbuh di daerah tropis bahkan saat musim kemarau pun sukun tetap tumbuh lebat dengan produksi yang relatif stabil. Kondisi geografis Tolitoli mendukung budidaya sukun bahkan di pulau-pulau kecil sekalipun. Dengan demikian sukun tidak saja mengandalkan buahnya tetapi keberadannya juga bisa berkontribusi terhadap penyeimbang kerusakan lingkungan.

Ketiga, memelihara sukun tidaklah sesulit memelihara pohon cengkeh dan dapat berbuah lebat dua kali dalam setahun.

Keempat, produk turunan sukun sudah cukup banyak bisa dikembangkan seperti kripik, donat dan bahan campuran makanan lainnya karena sukun juga bisa diolah menjadi tepung. Saya percaya masih banyak turunan lainnya jika diteliti dan dikembangkan melalui kajian dan pengujian laboratorium. Ini urusannya dengan perguruan tinggi.

Empat alasan itu cukup untuk memprogramkan 100 ribu pohon sukun di Tolitoli. Jika satu pohon menghasilkan 100 biji per tahun maka stok sukun di daerah itu bisa mencapai 10 juta biji. Jika dihargai Rp5.000 per biji maka menghasilkan Rp5 miliar pertahun. Jika pengolahan hilirnya hidup dengan nilai tambah 30 sampai 50 persen maka setahun bisa menghasilkan Rp7 miliar sampai Rp10 miliar. Katakanlah biaya produksi 50 sampai 60 persen. Kita masih tetap untung 40 sampai 50 persen.

Bayangkan jika itu diolah oleh PT. Pembangunan Daerah Tolitoli, maka perusahaan daerah tidak akan mengemis lagi ke pemerintah daerah, karena sudah memiliki segmen usaha yang jelas dan terukur.

Mungkin pikiran kecil ini imposibel bagi jiwa-jiwa pesimistis, tetapi akan menjadi keniscayaan bagi generasi muda yang punya energi positif, kreatif, inovatif dan berjiwa pemimpin imajinatif.

Bagi mereka yang berjiwa pesimistis akan kerepotan memikirkan dimana lahannya? Dari mana bibitnya? Bagaimana membudidayakannya? Bagaimana mengolahnya? Dari mana sumber dananya? Kemana pemasarannya? dan sebagainya.

Tetapi bagi generasi muda yang dinamis, inovatif dan kreatif, itu bukan penghalang sepanjang direspons secara bersama-sama, terencana dan fokus.

Untuk lahan misalnya, kita bisa menjadikan program ini sebagai program desa. Desa-desa yang masih punya lahan kosong, diserahi tugas mengurus tanamannya. Jika tidak ada, pemerintah mewajibkan setiap rumah menanam minimal satu pohon sukun. Jika di desa itu ada 500 rumah, maka 500 pohon sudah teratasi. Cukup 20 desa terlibat, sudah bisa mencapai 10 ribu pohon. Apalagi kalau pemerintah punya lahan kosong, ditanami sukun, target produksi pasti bisa dicapai.

Dari mana bibitnya? Pemerintah bia memasukkan dalam APBD di Dinas Perkebunan atau Pertanian. Lalu diswakelolakan kepada kelompok tani. Biarlah kelompok tani yang bergerak untuk itu dengan pengawasan tentunya. Dengan begitu kelompok tani sudah bisa terberdaya karena menerima efek langsung dari program ini.

Siapa yang mengorganisir? Itulah pentingnya perusahaan daerah. Perusahaan daerah sebagai lokomotif bisnis pemerintah harus hadir sebagai jembatan untuk kepentingan pengelolaannya. Perusahaan inilah yang diberi tugas menggerakkan seluruh potensi yang ada.

Perusahaan inilah yang mendirikan industri hilirnya, membuka akses pasarnya, menjaga kualitas produksinya, membangun kerjasama lintas provinsi bahkan lintas negara. Perusahaan inilah yang menjadi bapak angkat untuk industri rumah tangga. Perusahaan inilah jantung utama dari seluruh sistem revitalisasi industri berbasis perkebunan itu.

Bayangkan jika di Tolitoli ada kawasan industri berbahan baku pertanian. Di sana ada pabrik tepung sukun, di sana ada industri kripik sukun, di sana ada donat sukun, di sana ada toko obat berbahan sukun, di sana ada pengiriman tepung sukun setiap bulannya ke sejumlah negara Asia, dan sebagainya. Di sana pasti ekonomi berdenyut, di sana ada pergerakan uang, di sana ada alihteknologi pertanian dan sebagainya.

Betapa hebatnya daerah itu karena mampu menciptakan image sendiri di tengah hebatnya persaingan industri pangan global dewasa ini. Kita mampu masuk di sela-sela ancaman krisis pangan global dan terbukanya pasar bebas ASEAN.

Bayangkan begitu banyak yang tertolong dengan program ini. Mulai dari petani, pedagang pengumpul, industri rumahan, transportasi dan tentunya penyerapan tenaga kerja. Secara umum ekonomi lokal daerah itu akan terdongkrak naik karena dinamisnya pengelolaan potensi lokal.

Itulah sebabnya kita butuh pemuda kreatif dan inovatif dilibatkan dalam program seperti ini. Siapapun bupati terpilih ke depan, sudah harus memikirkan sumber-sumber penggerak ekonomi di daerah, sehingga tidak hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi daerah dari tambang semata. Sebab daerah yang hanya mengandalkan pertambangan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, hanyalah daerah pewaris sistem kolonial. Ingat, dulu kita dijajah karena sumber daya alam kita mau dieksploitasi.

Pemerintah yang hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya alam khususnya energi sumber daya mineral sebagai penggerak utama ekonomi hanyalah pemerintahan pewaris kolonial.

Bukan berarti sumber mineral kita haram digarap, sepanjang tidak merusak lingkungan dan menabrak aturan. Tetapi hari ini, potensi nonmineral masih sangat besar untuk dikembangkan. Itulah sebabnya kita butuh pemimpin tidak sekadar memiliki uang dan ketenaran, tetapi juga gagasan-gagasan besar untuk menggerakkan potensi daerah.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s