Mendesain Masa Depan Transportasi Kota Palu

Oleh Adha Nadjemuddin

Pagi itu matahari perlahan-lahan memanasi gunung-gunung di Kota Palu. Sinarnya menyela di antara himpitan gunung, di antara gedung-gedung, memantulkan energinya, memompa semangat pagi, mengawal geliat masyarakat Kota Palu.

Suasana di jalan-jalan raya Kota Palu yang sebelumnya lengang, perlahan-lahan pecah oleh brisik knalpot kendaraan. Selamat pagi macet.

Tahun-tahun belakangan, lalulintas di Kota Palu sudah sering dilanda kemacetan. Bayangkan jika setiap tahun pertumbuhan kendaraan mencapai 10-15 persen,

maka lima hingga 10 tahun mendatang, kemacetan Kota Palu bisa menjadi dua kali lipat dari hari ini. Jadilah lalulintas menjadi masalah serius dan pelik. Pemerintah akan disibukkan dengan urusan transportasi kota. Waktu, energi dan anggaran akan tersita mengurus masalah ini.

Sebelum transportasi kota menjadi kronis dan menggerus anggaran yang lebih besar, pemerintah kota sudah harus memperkuat penataan transportasi kota sebagai program perioritas.

Ini penting karena terkait pelayanan publik, kenyamanan hidup masyarakat kota. Macet akan membuat hidup masyarakat kota terganggu. Jadilah kota Palu, kota yang tidak nyaman dihuni.

Para calon wali kota Palu harus menjadikan transportasi sebagai urusan perioritas. Siapapun terpilih pada pilkada serentak 2015, urusan transportasi harus diletakkan di beranda depan rencana penataan kota.

Ada beberapa konsep mengurai problem transportasi kota yang bisa ditawarkan kepada para calon wali kota.

Pertama, penataan angkutan kota dengan sistem subsidi.

Konon satu-satunya kota di Indonesia yang tidak mampu mengimplementasikan trayek angkutan kota adalah Kota Palu. Kendati seluruh kekuatan pemerintah kota dikerahkan untuk itu, tetap saja tidak berhasil. Bahkan tidak sedikit berakhir dengan konflik sehingga unjukrasa pun tidak terhindarkan.

Sopir angkutan kota protes dengan trayek karena ada jalur basah dan kering. Ada yang diuntungkan ada yang dirugikan. Reaksi ini wajar karena terkait pendapatan sopir. Sopir dikejar dengan storan. Ditambah lagi tradisi angkutan kota di Palu selama ini bebas kemana saja membawa penumpang seenaknya. Padahal kondisi itu membuat susah penumpang.

Problem tersebut bisa dipecahkan melalui subsidi. Pemerintah bekerjasama dengan swasta ikut berinvestasi di angkutan kota. Pemerintah membeli angkutan kota secara bertahap melalui perusahaan daerah. Pemerintah kota membentuk perusahaanya, seperti Perum Damri. Perusahaan inilah yang diserahi tugas sebagai operator dari rencana pemerintah.

Angkutan kota juga perlu dimodifikasi agar lebih nyaman. Jika setahun pemerintah membeli 20 unit, maka lima tahun ada 100 unit angkutan. Inilah yang akan beroperasi sesuai trayek. Sopirnya pasti ikut perintah karena mereka digaji. Jika tidak taat terhadap trayke ya diganti.

Subsidi angkutan kota ini sudah harus dilakukan karena minat pelaku bisnis angkutan semakin kecil. Lama-lama tidak ada lagi angkutan kota karena secara bisnis tidak menguntungkan lagi. Maka pemerintah harus hadir sebagai alternatif. Pemerintah kota tidak saja memikirkan perusahaan transportasi sebagai sumber pendapatan tetapi lebih dikedapankan sebagai public service. Itulah tugas pemerintah dalam memberikan pelayanan.

Dengan intervensi seperti ini, saya percaya trayek angkutan kota akan hidup. Modifikasi angkutan yang nyaman juga harus diciptakan. Soal tarif pemerintah kota/perusahaan yang menentukan. Sebagai transportasi pelayanan publik sudah tentu tarif angkutan kota lebih murah dan nyaman.

Kedua, problem transportasi bisa diurai dengan penyediaan angkutan massal. Perioritaskan pada angkutan sekolah dan pegawai negeri. Angkutan massal juga dioperasikan oleh perusahaan daerah. Tujuan utamanya bukan sebagai perusahaan profit semata, tetapi kepentingan pelayanan publik jauh lebih penting.

Salah satu penyebab macet karena banyaknya siswa menggunakan sepeda motor ke sekolah. Bayangkan, jika satu sekolah terdapat 500 siswa, paling sedikit 300 dari jumlah itu pakai motor. Jika di kota Palu ada 20 sekolah maka ada 6.000 sampai 8.000 sepeda motor yang bergerak di jalan raya pagi hari dan jam pulang sekolah dalam waktu bersamaan. Pastilah macet.

Karena siswa sudah membawa kendaraan sendiri ke sekolah, pihak sekolah juga pusing dengan ruang parkir yang terbatas. Lahan itu mestinya sudah bisa dipakai bangun laboratorium tapi harus disiapkan lagi untuk area parkir yang luas. Makin sempitlah lahan sekolah.

Jika pemerintah mengambil alih angkutan massal khusus pelajar setidaknya bisa menekan jumlah kendaraan di atas jalan raya. Angkutan pelajar disiapkan juga berfungsi sebagai service pelayanan publik. Angkutannya dimodifikasi sehingga lebih nyaman dan murah.

Sebagai orang tua, tentu saya lebih memilih anak saya naik angkutan sekolah yang nyaman dan murah daripada mereka membawa sepeda motor sendiri, karena kecelakaan selalu mengintai mereka. Potensi untuk jalan-jalan di luar sekolah juga besar karena mereka punya kendaraan sendiri.

Yang lain urusan teknis, bagaimana membangun halte, bagaimana mengatur trayek angkutan dari kompleks perumahan ke sekolah, begitupun sebaliknya. Kalau visi transportasi ini sudah ditancapkan, semua pasti ada solusi. Tidak ada masalah tanpa jalan keluar.

Ketiga, membangun jalur-jalur alternatif lintas kawasan. Misalnya, di samping- kiri kanan sungai Palu, bisa menjadi jalur transportasi alternatif untuk jenis kendaraan tertentu. Jalur ini bisa menghubungkan dari Kelurahan Palupi sampai ke Talise. Dari Bumi Bahari sampai ke Palupi.

Jika ini dibangun, praktis masyarakat Palupi yang hendak ke Talise dan sekitarnya punya pilihan jalur. Mau melintas di jalanan utama dengan waktu tempuh lebih lama atau melintas di jalur alternatif yang lebih cepat.

Tentu saja ini tidak dibangun sekaligus. Bisa digabung secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak seperti pelaku ekonomi, pengamat transportasi dan sebagainya. Pelibatan publik untuk mengurai problem kota penting karena akan menciptakan tanggungjawab yang sama.

Begitulah kira-kira konsep besar yang perlu dilakukan pemerintah kota dalam menyelesaikan problem transportasi kota. Tentu di luar sana, masih banyak pikiran cerdas yang perlu didengar oleh para calon wali kota untuk memperkaya gagasan atas solusi problem Kota Palu. Boleh begitu?***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s