Sana-Sini, Sudah Dekat

Oleh Adha Nadjemuddin

Ini kali pertama saya menikmati penerbangan dari Palu-Luwuk-Manado. Sebelumnya hanya dari Palu-Makassar-Manado. Walaupun dengan pesawat komersil ATR72 seri 500, tetapi perjalanan ini cukup menarik. Sesekali jantung ini memompa kuat ketika pesawat menabrak awan, hendak mendarat ataupun tinggal landas.

Ya, mendadak kaget sebab pesawat yang diproduksi di Toulouse, Prancis, itu terbang dibantu dua baling-baling, kiri kanan dengan mengangkut 72 penumpang. Tidak itu saja, bunyi “kraaag kraaag” saat roda pesawat dikeluarkan dari tubuh pesawat bikin hati tidak nyaman. Apalagi saat mendarat, badan pesawat langsung tersentak kaget, sehingga penumpang pun langsung berujar “astagfirullah”.

Beberapa pekan sebelumnya, saya juga menumpang dengan pesawat yang sama dari Palu ke Buol. Pesawat milik Wing’s Air ini mendarat sempurna di Bandara Pogogul Buol. Dengan segala kekuatiran, rasanya tetap nyaman dibanding mendarat dengan mobil. Uhh, lelahnya minta ampun.

Dari Palu ke Buol hanya ditempuh 45 menit. Kurang lebih sama dari Palu ke Luwuk dengan ketinggian jelajah 15.000 kaki di atas permukaan laut. Terbang bersama ATR72-500 ternyata asyik, lantaran kita bisa menikmati pemandangan alam Sulawesi Tengah yang mengagumkan. Lekukan teluk, hutan gundul, kebun-kebun sawit yang berjejer, gunung yang compang camping akibat eksploitatif, bisa dinikmati lebih lama. Jelajah ketinggian pesawat juga tidak teramat tinggi, dibanding menumpang dengan Boeng 737-800/900.

Jantung yang tiba-tiba memompa kencang, pemandangan alam yang indah, adalah bunga-bunga perjalanan. Tidak kalah pentingnya dari perjalanan itu bahwa konektivitas antar kabupaten di Sulawesi Tengah dan antar provinsi kian terbuka lebar. Aksesibilitas melalui transportasi udara semakin baik. Bayangkan, setelah sekian lama, akses transportasi udara Palu-Manado baru belakangan bisa terbuka. Dulu hanya melalui Makassar atau Balikpapan.

Belakangan ini infrastruktur transportasi di Sulawesi Tengah tampaknya semakin membaik. Sejumlah bandara direhab, bahkan dari daerah yang tidak ada bandaranya dibangunkan bandara. Sekarang penerbangan sudah terbuka sampai ke Ampana, Tojo Unauna, Morowali, Tolitoli, Buol, Poso dan Luwuk.

Ke Buol misalnya, jadwal penerbangan ke daerah perbatasan Sulawesi Tengah-Gorontalo itu sudah empat kali dalam sepekan. Tiba sore hari, esok pagi pukul 06.00 bisa berangkat lagi ke Palu.

Begitu halnya ke Luwuk. Mau ke Makassar atau ke Manado tidak perlu lagi lewat Palu. Ke Manado, bisa diterbangi pulang pergi melalui Luwuk. Tiba di Manado pukul 10.15 WITA, 30 menit kemudian bisa berangkat lagi ke Luwuk. Makin dekat rasanya jarak antar daerah.

Tentu saja, kemajuan akses transportasi ini diharapkan bisa memacu nadi perekonomian di Sulawesi Tengah lebih cepat dan efektif. Ke depan, semakin banyak daerah-daerah yang tumbuh, kemajuan daerah akan semakin cepat. Inilah tanggungjawab bersama yang harus terus kita bangun. Kita rawat dan kita teruskan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s