Toni-Midi itu, Guru Politik Kita

Rabu malam itu, rasa lelah menghajar tubuh saya. Mata sudah mulai merah. Rambut putihku tidak karu-karuan lagi setelah seharian penuh melek dari kegiatan merekam, mengolah dan mempublikasikan pungut hitung pilkada serentak. Tetapi semuanya terasa hilang, saat mata ini melihat pak Tahmidi Lasahido (Midi) merebahkan badannya di panggung pertunjukan pelataran studio Radio Nebula.

Di sana, Midi bercakap-cakap bersama sahabat-sahabat dekatnya. Ada Ermas Cintawan, Hary Azis, Azis Sojol, Buncit dan banyak lagi yang lain. Sambil menikmati cemilan kacang dan air mineral dingin, percakapan politik juga terus mengalir. Sesekali diselai tawa dan canda. Asyik.

Selama hampir tujuh tahun saya mengenal dekat Midi, baru kali ini saya melihat calon wali kota Palu itu santai berbaring. Sangat santai. Padahal hampir lima bulan lamanya sosiolog Universitas Tadulako itu bergelut dengan urusan politik menyambut pilkada serentak.

Hampir lima bulan ia berurusan dengan orang banyak. Berurusan dengan politisi yang banyak tingkahnya. Berpikir dengan ongkos politik. Sudah begitu, tidak ada pula sang pendamping pribadi, setelah 3,5 tahun sebelumnya ditinggal pergi selamanya oleh istri tercinta, Astatie Saleh.

Bayangkan, Midi harus mundur dari dosen. Status PNS-nya terpaksa hilang karena aturan memaksa seluruh calon kepala daerah mundur dari PNS dan jabatan publik. Risiko yang luar biasa dalam urusan politik. Padahal kelak terpilih menjadi pejabat, tanggungjawabnya juga tidak enteng. Bahkan berisiko terjerat hukum meski hanya salah mengurus administrasi sekalipun.

Tetapi itulah Midi. Putera mantan Gubernur Sulawesi Tengah Galib Lasahido itu sangat matang dalam segala urusan. Pada 10 tahun sebelumnya, Tahmidi dua kali bertarung dalam pilkada di Tojo Unauna. Sudah begitu, tidak pula menangguk kemenangan. Kali ini, maju lagi sebagai calon wakil wali kota mendampingi Mulhanan Tombolotutu (Toni). Belum ada keputusan resmi kalah atau menang. Tetapi hampir dipastikan, pasangan ini kalah.

Sudah kalah, tetapi Midi tetap tenang dan santai seperti biasa. Seperti tidak sedang terjadi apa-apa pada dirinya. Bayangkan, jika itu menimpa Anda? Mungkinkah Anda setegar Midi? Entahlah.

Rasa lelah saya terasa datang lagi setelah beranjak meninggalkan Midi dan sahabat-sahabatnya di panggung pertunjukkan. Tetap saja saya memaksa diri membuka laptop, segera menghubungkan ke wifi. Perasaan malas menulis pun datang. Waktu pun sudah mengantar ke Kamis dini hari. Solusinya, buka facebook.

Saya kagum, terharu dan bangga setelah membaca status seseorang di facebook. Status itu mengutip pernyataan Mulhanan Tombolotutu (Toni) dalam status medsosnya yang dibuatnya sendiri. Mulhanan dengan jiwa besarnya mengakui keunggulan perolehan suara pasangan Hidayat-Pasha dalam pemilihan kepala daerah serentak. Toni dengan bangga mengucapkan selamat kepada Hidayat-Pasha atas keuletan mereka dalam berjuang di garis politik.

Sebagai ungkapan kekaguman saya kepada Toni dan Midi, saya pun mengirim pesan singkat kepada keduanya. Betapa Toni dan Midi, tidak saja sebagai kakak dan sahabat, tetapi sekaligus guru politik bangsa. Keduanya guru politik bangsa yang langka di tengah tingginya sahwat politik anak-anak bangsa merebut kekuasaan. Pantaslah kiranya, jika calon wali kota terpilih nanti menjadikan keduanya sebagai mitra pemerintah kota.

Pikiran keduanya sangat dibutuhkan untuk kemajuan Kota Palu. Kematangan emosionalnya juga pantas dijadikan tauladan meski realitas politik menolak kehadiran keduanya menjadi pemimpin kota. Mungkin itulah cara Tuhan menyayangi keduanya, agar mereka tetap menjadi guru politik bangsa di lembah Palu.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s