Memaknai Ikhtiar Politik Alkhairaat

Oleh Adha Nadjemuddin

Pemilihan kepala daerah serentak 2015 berakhir sudah. Tidak sedikit pikiran, tenaga, materi dan perasaan telah dikorbankan. Lebih dari itu, raga pun dikorbankan setelah berhadapan dengan aparat polisi. Menghirup gas air mata, menantang semprotan air dan menghindar pukulan aparat. Bahkan nyawapun melayang setelah kecelakaan maut dalam perjalanan mengantar hasil rekapitulasi perolehan suara kecamatan.

Hubungan pertemanan bahkan persaudaraanpun terganggu hanya karena beda pilihan, saling serang sindiran, hujatan dan membongkar aib. Rangkaian pertistiwa itu seperti menyeret kita lupa akan hakibat demokrasi untuk kesejahteraan rakyat. Kita seakan lupa bahwa ber-pilkada untuk kemajuan daerah.

Itu menunjukkan bahwa demokrasi belum bisa membuat kita saling mengisi kekurangan satu sama lain. Demokrasi masih menonjolkan kekuatan dan membongkar kelemahan satu dengan lainnya. Demokrasi baru sebatas simbol-simbol dan mekanisme belaka seperti adanya kandidat kepala daerah, tahapan pilkada, lembaga penyelenggaran (KPU dan Bawaslu), tim sukses dan kampanye. Praktik demokrasi kita baru sebatas hingar bingar politik.

Yang menang bergembira. Yang kalah menghibur diri. Yang lain mengklaim telah berjuang untuk kepentingan kemenangan sang calon. Yang belum puas mengajukan gugatan. Yang lain sedang berusaha agar dinilai juga telah berjuang untuk kemenangan pemenang. Yang lain sibuk cari muka ke pemenang agar bisa dapat jabatan kelak. Semua itu sudah jadi tradisi pasca pemilihan kepala daerah.

Tetapi yang belum menjadi tradisi sepanjang sejarah pemilihan kepala daerah adalah masuknya Alkhairaat dalam pusaran politik praktis. Organisasi terbesar di kawasan Timur Indonesia itu mendukung salah satu calon kepala daerah secara total pada pemilihan gubernur. Di sebut total karena dukungan resmi dikeluarkan secara tertulis oleh ulama tersohor cucu pendiri Alkhairaat Habib Idrus bin Salim Aljufri, yakni Habib Saggaf Aljufri selaku Ketua Utama Alkhairaat. Di kalangan Alkhairaat, keputusan ketua utama adalah keputusan organisasi.

Meleburnya Alkhairaat dalam hingar bingar politik tersebut merupakan keputusan fenomenal sekaligus memantik kontroversi hebat baik di kalangan pengikut Alkhairaat maupun di luar Alkhairaat. Ada yang taat ada pula yang tidak peduli. Bagi mereka yang menafsirkan maklumat dukungan Habib Saggaf tersebut sebagai fatwa ulama, mereka menaatinya. Bagi yang menganggap itu keputusan politis karena hak yang melekat pada Habib Saggaf, sama dengan hak warga lainnya untuk menentukan sikap politiknya, maklumat tersebut tidak mengubah sikap seseorang. “Ngga ngaru” kata orang Jakarta.

Jika sebelum ada maklumat hanya dua pilihan yakni calon nomor urut 1 atau nomor urut 2, maka dengan keluarnya maklumat, masyarakat diperhadapkan pada tiga pilihan. Nomor 1, Nomor 2, atau Maklumat. Walapun kehadiran Alkhairaat melahirkan kontroversi tetapi kehadirannya telah memberi warna baru pada pilkada kali ini.

Jika setiap pertandingan ada dua pemenang, maka pemilihan gubernur 9 Desember 2015, terdapat dua pemenangnya, yakni gubernur peraih suara terbanyak dan Alkhairaat.

Alkhairaat yang mendukung pasangan Rusdi Mastura/Ihwan Datu Adam harus diakui. Hebat. Bukan soal kalah atau menang terhadap calon yang didukung, sebab kalah dan menang dalam pertarungan apapun itu lumrah. Karena itulah Ketua Utama Alkhairaat Habib Saggaf Aljufri tidak pusing apakah nanti Rusdy/Ihwan menang dalam gugatan di Mahkamah Konstitusi atau kalah. Itu tidak soal, sebab sang kiyai itu telah berikhtiar.

Tidak salah jika ada pandangan menyesalkan Alkhairaat terlibat langsung dalam politik praktis. Sebab kita tidak tahu pasti, kenapa Habib Saggaf memilih masuk dalam pusaran politik. Mari kita lihat sisi lainnya.

Pertama, bahwa Habib Saggaf ingin Alkhairaat tetap menjadi pembicaraan seksi di tengah masyarakat. Bukan hanya dalam dunia pendidikan, dakwah dan sosial kemasyarakatan, tetapi juga politik. Coba ingat kembali, berapa kali sehari kita membicarakan Alkhairaat waktu pilkada lalu. Pembicaraan kita pasti melebar kemana-mana, bukan soal pilihan terhadap calon gubernur. Tetapi merembes sampai jauh, mungkin terhadap masalah keuangan Alkhairaat, minimnya partisipasi pemerintah dalam membantu Alkhairaat, atau juga masih rendahnya perhatian kita terhadap organisasi keislaman itu.

Kedua, Habib Saggaf ingin menguji sejauhmana kesalehan/ketaatan atau kesolidan warga Alkhairaat dalam hal politik. Jika dalam hal garis politik saja Alkhairaat solid, apalagi dalam urusan dakwah, pasti lebih solid. Itu kemungkinan yang harus dibaca dari keinginan Habib yang kita tidak tahu persis.

Ketiga, Habib Saggaf mungkin ingin menunjukkan kepada publik khususnya di Kawasan Timur Indonesia bahwa Alkhairaat itu memang kuat. Habib ingin melihat apakah benar selama ini Alkhairaat yang ada di Tojo Unauna, Morowali, Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Donggala dan Kota Palu Alkhairaat masih kuat atau tidak. Hasilnya tidak bisa dipandang enteng. Benar adanya Alkhairaat memang kuat dan tingkat kepatuhan warga terhadap Habib sangat tinggi.

Tidak bermaksud mengurangi kemampuan personal Rusdi Mastura terhadap peluang keterpilihannya, tetapi tanpa dukungan Alkhairaat kemungkinan perolehan suara Rusdi Mastura tidak setinggi itu, apalagi waktu kerja Rusdi Mastura hanya sekitar empat bulan. Karena magnet Alkhairaatlah sehingga perolehan suara Rusdi-Ihwan sangat signifikan.

Di basis-basis Alkhairaat seperti Morowali, Tojo Unauna, Donggala dan sebagian wilayah dominan muslim di Sigi, Rusdi/Ihwan unggul. Kenapa? Di sana ada Alkhairaat.

Di sinilah posisi tawar Alkhairaat dalam dunia politik itu sangat diperhitungkan. Jika ini menguat di kawasan timur Indonesia, maka Alkhairaat akan semakin diperhitungkan sebagai lokomotif besar di kawasan ini.

Keempat, makna lain yang kemungkinan tidak kita tangkap dari hadirnya Habib Saggaf adalah penguatan demokrasi bahwa pilkada gubernur Sulawesi Tengah bukan pertandingan persahabatan antara Rusdi dengan Longki. Kehadiran Habib Saggaf menunjukkan pilkada itu serius dan menepis adanya boneka politik.

Masih banyak kemungkinan makna-makna lain yang belum bisa kita maknai dari keputusan Habib Saggaf tersebut. Itulah ulama, keputusannya kadang belum bisa kita maknai pada saat itu, tetapi nanti setelahnya. Kita doakan semoga Habib Saggaf bersama para keluarganya tetap diberikan kesehatan dan kekuatan.

Di balik makna-makna positif tersebut, tentu saja tidak sedikit predikat negatif ikutannya. Ketika para tokoh politik dan pemimpin di daerah ini berselisih paham, bertengkar satu dengan yang lain, Habib Saggaf adalah penengahnya. Tetapi jika beliau telah memihak ke salah satu tokoh yang ada, kita pun kehilangan tokoh kharismatik sebagai penengah.

Makna negatif lainnya yang bisa ditarik adalah terbongkarnya ketidaksolidan turunan pendiri Alkhairaat. Ada keluarga yang mendukung ke Rusdi Mastura ada pula puteri dari pendiri Alkhairaat mendukung ke Longki Djanggola. Semua ada maknanya, sehingga siapapun yang menang, Alkhairaat tetap ada di sana. Ada di sekitar kekuasaan.***

One thought on “Memaknai Ikhtiar Politik Alkhairaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s