Memperlakukan MEA

Oleh Adha Nadjemuddin

Tampaknya menarik kita berdiskusi tentang masyarakat ekonomi ASEAN (MEA). Menarik karena memang ini eranya. Era pasar bebas ASEAN. Pasar tunggal ini sengaja di desain, direkayasa sedemikian agar arus investasi di negara-negara Asia Tenggara mengalir lebih cepat sehingga bisa menyerap tenaga kerja hingga puluhan juta orang.

Ada harapan besar, ada pula kekuatiran, itu wajar sebab arus tenaga kerja profesional akn sulit dibendung masuk ke negara kita. Sebaliknya, arus tenaga kerja keluar negeri juga semakin besar. Sepanjang kita memiliki kompetensi dalam bidang tertentu maka yakinlah kita tidak akan pernah terhempas dari peluang kerja. Kuncinya kompetensi. Sudahkah kita memiliki kompetensi itu? Di bidang apa? Apakah kompetensi kita dibutuhkan?

Selain tenaga kerja dengan syarat komptensi tadi, arus barang dan jasa lainnya juga tidak bísa kita hindari. Saya tidak bisa membayangkan, jika pengusaha pertanian dari Singapur, Malaysia atau dari Thailand masuk ke Sulawesi Tengah. Mereka hendak berinvestasi di sektor tanaman pangan. Sudah siapkah kita menjadi tenaga kerja di tanah kita sendiri?

Bukan tidak mungkin itu terjadi karena industrialisasi pertanian paling potensial ada di negara kita, Indonesia. Sangking hebatnya, tongkat ditanam pun bisa tumbuh subur.

Begitu halnya di sektor perkebunan. Jika ada investor dari negara-negara di Asia Tenggara itu berinvestasi, sudah siapkah kita menjadi buruh di lahan perkebunan kita sendiri?

Tidak bisa lagi dihindari, praktik investasi tersebut sudah terjadi. Lihat saja sejumlah investasi di sektor perkebunan kelapa sawit. Apalagi di sektor pertambangan galian strategis, investasi telah dikuasai Asing. Bahkan bukan saja dari negara-negara Asia Tenggara tetapi Eropa dan Amerika.

Saya sengaja memfokuskan tulisan ini pada sektor pertanian karena inilah potensi terbesar kita. Dengan potensi yang ada ini kita bisa menciptakan lapangan kerja yang banyak. Jauh lebih banyak dari penyerapan tenaga kerja di sektor pertambangan. Tidak perlu terlalu jauh kita berpikir tentang Kawasan Ekonomi Khusus, yang masih dalam imajinasi itu, tetapi fakta menunjukkan sepanjang jalanan perjalanan dari Palu ke Buol, misalnya, terhampar potensi besar. Dari laut sampai darat. Mau diapa potensi itu?

Selama ini pikiran kita cenderung digiring ke soal potensi pertambangan dan industri manufaktur semata. Seakan-akan hanya di sanalah kita bisa menyerap tenaga kerja, padahal di sisi lain investasi di sektor itu membutuhkan teknologi tinggi, padat modal, regulasi yang ketat dan potensi terjadinya kecurangan dengan cara sogok menyogok untuk mendapatkan Izin Usaha Pertambangan.

Kenapa kita tidak ngotot memperkuat sektor pertanian saja. Potensinya sangat besar. Dari dulu, Donggala misalnya dikenal sebagai lumbung kelapa dalam. Tapi anehnya, hingga kini tidak ada industri pengolahan yang bisa meningkatkan nilai tambah dari kelapa dalam. Kenapa?

Dulu juga kita berapi-api bicara tentang industrialisasi kakao. Kita bangga dengan daerah penghasil kakao. Tapi kini seperti redup, bahkan petani kita sebagian sudah menyerah karena penyakit kakao tak kunjung berhenti menyerang perkebunan kakao kita. Kenapa?

Dari dulu, Sulawesi Tengah telah dikenal sebagai penghasil beras. Tapi kenapa produktivitas pertanian kita tak kunjung meningkat. Malah kita digempur dengan beras impor. Kenapa?

Ada beberapa alasan penting sehingga kita harus menggenjot sektor pertanian kita untuk menghadapi MEA.
Pertama, secara kultur masyarakat kita separuh dari penduduk ini lebih akrab dan hidup dari sektor pertanian. Kita juga banyak pakar yang dicetak melalui perguruan tinggi di sektor itu. Setiap tahun Perguruan Tinggi kita mencetak generasi pertanian. Bahkan sudah banyak doktor pertanian. Mereka ahli di bidang itu. Tidak perlu kita mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri. Potensi di daerah kita cukup banyak. Banyak saking banyaknya, mereka terpaksa mencari pekerjaan lain yang tidak linier dengan ilmunya.

Kedua, bekerja di sektor pertanian tidak membutuhkan kompetensi yang terlalu ribet. Tidak seperti industri manufaktur. Kita cukup disokong oleh perguruan tinggi dan lembaga pengkajian teknologi pertanian. Di lembaga itu sudah banyak sekali hasil hasil kajian teknologi pertanian. Tapi hanya jadi kekayaan di perpustakaan, tidak dipraktikkan secara sungguh-sungguh. Padahal petani kita masih sangat butuh pengetahuan. Jangan heran kalau petani kita gampang terpengaruh dengan produk-produk dari luar karena dianggap produk luar lebih hebat. Padahal hasilnya belum tentu.

Ketiga, potensi lahan kita masih cukup tersedia. Baik di darat maupun di laut. Laut kita saja baru dimanfaatkan sekitar 15 persen dari total potensi yang ada. Sudah banyak hasil-hasil studi dari Dinas Kelautan tapi tidak diimplementasikan secara masif.

Keempat, konsumsi pangan dunia terus meningkat setiap tahunnya. Kita tidak pernah kehilangan pasar. Di Kalimantan saja, buah-buahan begitu mahal harganya. Seorang anak muda dari Wani yang berbisnis buah ke Kalimantan, saat ini sudah punya kapal sendiri. Dia sukses karena tekun di bidangnya. Itu artinya, peluang pasar pertanian kita sangat terbuka.

Empat alasan tersebut lebih dari cukup sehingga kita harus kembali memperkuat sektor pertanian kita. Kita hidup di negara agraris, bukan di negara industri. Oleh sebab itu, kita harus mendorong pemerintah agar bekerja lebih cepat untuk mengembangkan potensi pertanian.

Sekali lagi, kita harus unggul di sektor pertanian untuk menghadapi pasar bebas ASEAN. Hanya itu yang utama dan prioritas yang bisa kita kerjakan. Tentu perlu strategi agar itu bisa diwujudkan. Menurut saya strategi yang harus kita perkuat adalah;

Pertama, mengalokasikan anggaran yang cukup untuk mendukung percepatan pembangunan sektor pertanian. Jika APBD kita sudah terserap ke pos kesehatan 10 persen, pendidikan 20 persen, maka setidaknya pertanian juga harus 20 persen. Belanja pegawai yang tidak penting sudah harus dipangkas. Ya dipangkas habis. Kinerja birokrasi sudah harus berbasis kinerja. Nda boleh lagi kerja seadanya.

Kedua, memberi ruang seluas-luasnya kepada swasta untuk mengambil peran. Pemerintah selaku regulator dan fasilitator harus pandai membujuk swasta sehingga bisa terlibat secara serius. Beberapa tulisan saya sebelumnya, sudah menyinggung tentang industrialisasi pangan. Sehingga banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan. Tidak perlu investasi triliunan seperti di sektor pertambangan.

Ketiga, fokus. Pemerintah harus fokus. Apa yang mau dijadikan unggulan. Kalau kita mau mengunggulkan kakao, misalnya, ya harus fokus di sana. Semua harus dipikirkan dari hulu sampai hilir. Perlu kerja serius, cepat dan fokus. Nda boleh semua mau digerakkan karena anggaran kita sangat terbatas.

Memang anggaran kita kedodoran membiayai sektor pertanian. Itu harus diakui. Contoh, daya dukung irigasi kita saat ini sudah memprihatinkan. Irigasi kewenangan provinsi, misalnya, tidak mampu dikerjakan semua. Hanya tambak sulam. Banyak yang terbengkalai. Akhirnya berdampak pada produksi dan produktivitas pertanian.

Kira-kira itu yang ada dalam pikiran saya terhadap sikap kita memperlakukan MEA. Tidak ada kata terlambat, kecuali kita hanya berpangku tangan dan onani dengan potensi kita. Semoga.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s