Ini Tawaran Konsep Strategis Membangun Teluk Palu

Oleh Adha Nadjemuddin

Ini pikiran saya tentang pengembangan dan pemanfaatan Teluk Palu. Ini konsep besarnya. Tentu saja butuh kajian dari berbagai aspek sehingga lebih detail. Sehingga lebih perspektif dan prospektif lagi.

Saya ingin membawa kita kita mem-branding image tentang pengelolaan kawasan teluk Palu yang komprehensif dan berkelanjutan. Saya menyebut kawasan itu sebagai Pusat Wisata Bahari dan Agro Ekonomi Teluk Palu.

Untuk menguatkan branding itu maka etalasenya kira-kira seperti ini “Selamat Datang di Pusat Wisata Bahari dan Agro Ekonomi Teluk Palu”. Ini digarap serius sehingga bisa menjadi posisioning bagi masyarakat kota, bahwa Teluk Palu adalah tempat nongkrongnya orang Sulawesi.

Kawasan Teluk Palu adalah hamparan pesisir dari Pantoloan di bagian utara Kota Palu sampai di Watusampu bagian barat Kota Palu. Semua ini kawasan strategis. Banyak sekali titik strategis di teluk ini, salah satunya kawasan penggaraman.

Saya akan berusaha memaparkannya satu persatu. Tapi kali ini saya hanya ingin berbagi dulu soal pengembangan kawasan penggaraman. Lokasi penggaraman yang legedaris di Kelurahan Talise Palu itu harus dijangkau. Harus disentuh lebih jauh lagi. Tidak boleh dibiarkan begitu.

Kondisi ril kawasan penggaraman saat ini antara lain; tidak produktif lagi akibat tercemar limbah rumah tangga, Co2 dan mercuri. Akibatnya lokasi yang punya nilai sejarah itu terkatung-katung. Penghasilan masyarakat merosot tajam.

Sebagian lahan di sana sudah dimiliki pemodal. Sebagian pemilik modal di Palu sudah membelinya. Entah mau dibikin apa, kita belum tahu. Paling-paling ruko dan ruko lagi. Buktinya sudah ada ruko terbangun di jalan lingkar luar. Heran, katanya kawasan wisata dan hijau. Tapi kok ada ruko.

Masalah lainnya sudah ada konflik kepentingan politik dan ekonomi. Ada campur tangan calo tanah. Warga diimingi dengan harga yang mahal sampai Rp2 juta per meter. Siapa yang tidak tertarik?

Masalah sosial lainnya adalah masyarakat pemilik tanah pusing dengan pekerjaan. Mau kerja apa. Garam tertumpuk, jarang yang beli. Ada lokasi penjualan makanan dan minuman yang disediakan pemerintah kota. Tapi saya menduga lokasi itu banyak diisi penjual dari luar. Bukan masyarakat di sana. Makin tersudutlah masyarakat di kawasan penggaraman itu.

Itu semua masalah. Masalahnya sudah menumpuk. Belum lagi soal reklamasi. Ini soal pelik juga. Reklamasi sudah cukup banyak menguras energi. Namanya masalah, ya pasti ada solusinya. Perlu satu solusi jitu, sekaligus mengurai sejumlah masalah di sana.

Di balik masalah itu, penggaraman Talise memiliki keunggulan. Letaknya strategis di tengah kota. Uni pula. Bernilai sejarah peradaban masyarakat Kota karena lokasi itu sudah ada sejak zaman Belanda. Lahannya luas, mencapai 16 hektare. Secara geografis, lokasi penggaraman itu berdimensi teluk, pegunungan dan pemukiman. Sirkulasi air lautnya lancar, meski sedikit sudah tercemar limbah rumah tangga.

Berangkat dari masalah dan keunggulan itu maka tidak ada jalan lain, itu harus diintervensi sehingga bisa menjadi agro ekonomi yang bisa diandalkan untuk pendapatan ekonomi masyarakat, pendapatan daerah sekaligus menjadi pusat wisata agro ekonomi.

Saya membagi penggaraman itu dalam empat dimensi potensi yang bisa menjawab branding pusat wisata agro ekonomi itu. Pertama, revitalisasi lokasi penggaraman itu sendiri. Jadi, ada sekian meter persegi yang harus dipertahankan. Dia dipertahanakan bukan untuk produksi ekonomis, tetapi mempertahankan nilai sejarah peradaban sekaligus menjadikannya pengetahuan tentang cara menggarap garam. Ini sekaligus bisa menjadi wisata yang unik.

Kedua, sebagian lokasi dijadikan penangkaran penyu hijau dan buaya sungai Palu. Buaya Palu ini unik. Ada yang hitam ada juga yang putih. Saban waktu dia muncul di jembatan II. Kalau buaya ini muncul, jembatan itu macet. Buaya ini ditangkap lalu disangkarkan di penggaraman. Buatkan tempatnya yang indah. Sehingga menarik dikunjungi. Di tata sedemikian indah sehingga bisa jadi pusat kunjungan wisatawan.

Ketiga, sebagian lokasi itu dijadikan pusat pemancingan ikan laut. Digali sampai empat atau tujuh meter. Lalu ditanami terumbu karang. Begitu karangnya tumbuh, lepas ikan di dalamnya. Ikan apa saja, yang penting menarik dipancing. Jadilah nanti di sana semacam aquarium raksasa. Orang boleh memancing, tapi bayar. Ikan yang dia dapat dilepas kembali. Yang penting hobi memancingnya tersalurkan. Jadilah di sana lokasi pemancingan bagi pehobi mancing.

Selain buaya dengan penyu hijau, boleh juga ika paus. Pokoknya biota laut yang ganas masukkan semua di kolam itu. Nanti di desain sedemian rupa. Itu tugasnya orang teknik. Sehingga nanti ada juga ikan langka yang ada di teluk Tomini dan Teluk Tolo dipajang di sana. Siapkan aquarium besarnya. Selain orang melihat buaya, penyu hijau dan hiu, orang juga bisa melihat ikan yang dilindungi di dunia yang ada di Sulawesi Tengah. Palu ini kan pusat Sulawesi Tengah. Keunggulan di daerah lain perlu dipajang di kota ini.

Keempat, sebagian lokasi dijadikan budidaya udang vaname, salah satu udang hasil rekayasa genetik yang sangat laku di pasar dunia. Harganya mencapai Rp80 ribu perkilogram. Budidaya ini menggunakan teknologi kincir. Hasilnya bisa berlipat-lipat dibanding budidaya kompensional di tambak tanah.

Pakar budidaya ini adalah Dr Hasanuddin Atjo, kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sulteng. Sudah diuji coba di Parigi dan Mamboro. Bahkan Hasanuddin membangun budidaya vaname di Sulawesi Selatan yang sudah menghasilkan miliaran rupiah. Ini prospek bisnis yang menggembirakan sekaligus bisa berkompetisi di pasar global (minimal di pasar Asia Tenggara).

Budidaya ini butuh investasi hampir Rp1 miliar. Itu sudah termasuk konstruksi dan modal kerja untuk lahan 2.000 meter persegi. Sekali panen bisa mencapai Rp760 juta. Artinya, dua kali panen saja sudah bisa meraup untung. Kalau tahun 2016 ini masuk tahap perencanaan detailnya, awal 2017 sudah bisa kontruksi.

Katakanlah total investasi untuk empat peluang pengembangan itu mencapai Rp5 miliar. Itu tidak seberapa dibanding hasil yang diperoleh nanti. Pemerintah hanya regulator dan fasilitator saja.

Kita bagi tugas. Serahkan pengelolaannya ke perusahaan daerah. Perusahaan daerah juga harus profesional, inovatif dan dinamis. Orientasi bisnis perusahaan daerah sudah harus melirik investasi jangka panjang dan berefek produktif untuk masyarakat. Pemerintah Palu dan provinsi bangun infrastruktur pendukungnya. Jalannya, listriknya, lingkungannya. Swasta juga diajak berinvestasi. Jangan semua hanya mau jadi kontraktor. Atau mandor tanah saja.

Masyarakat sekitarnya kita libatkan. Itu soal teknis saja. Lahannya mau dihitung sebagai saham, mau dikontrak atau mau dijual. Tergantung masyarakat penggaraman. Mana yang menguntungkan mereka. Bayangkan, kalau itu dimanfaatkan, masyarakat sudah bisa dapat kerja, tanahnya juga menghasilkan uang dan tetap jadi hak miliknya sepanjang zaman. Masyarakat enak, tenang karena ada pemasukan.

Kita punya peluang besar untuk pemanfaatan pesisir karena ini menjadi agenda nasional pemerintah pusat di bidang kemaritiman. Kita harus menangkap itu. Kita harus berani melakukan terobosan yang inovatif.

Coba pikir, kita punya tenaga ahli, Hasanuddin Atjo. Selama ini beliau dipakai orang Sulawesi Selatan bahkan di Jawa. Kenapa kita tidak pakai potensi itu. Kita punya lahan strategis, tidak saja untuk ekonomi tapi sekaligus untuk wisata. Kalau ini bisa dibangun semua, Palu ini makin dikenal dengan udangnya, dengan aqurium raksasanya, dengan penggaraman tradisionalnya, dengan biota lautnya yang unik. Di tengah kota pula. Wahhh sayang sekali kalau kita tidak berani bergerak maju.

Bagimana dengan titik Teluk Palu lainnya. Ahh nantilah kita diskusikan lagi, saya mau makan sore dulu. Lapar hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s