Memelihara Krisis Listrik

Sudah lama rasanya saya tidak ngobrol dengan sahabat2 lewat tulisan. Sambil menunggu giliran pemadaman listrik, ayo kita ngobrol sejenak. Kita bicara penderitaan kolektif kita. Krisis Listrik.

Listrik di Palu dan sekitarnya belakangan ini jadi perbincangan seksi. Dimana-mana orang bicara ke’aib’an dan keajaiban listrik kita. Buruk. Sejak Sulteng jadi provinsi nol tahun sampai saat ini 53 tahun, kita masih saja disibukkan urusan listrik. Energi kita terkuras di sini. Listrik, listrik dan listrik lagi.

Saat daerah lain sudah bicara implementasi investasi karena daya dukung listriknya besar. Kita masih dipusingkan, bagaimana mengatasi kritis listrik jangka pendek ini. Saat daerah lain sudah punya cadangan energi yang lebih untuk 10, 20 tahun mendatang, kita masih terbelenggu dengan krisis. Ini peristiwa berulang dari waktu ke waktu. Kapan berakhirnya, entahlah. Saya juga belum melihat jelas bagaimana rencana umum kelistrikan daerah kita.

Konon kita masih defisit 17 sampai 20 megawatt untuk area Palu, Sigi dan Donggala. Belum lagi daftar tunggu. Jumlahnya diperkirakan 35 megawatt. Kalau ditotal, kita masih kekurangan sekitar 55 megawatt. Jumlah itu sama dengan daya yang terpasang saat ini.

Kalau penanganannya lelet, kita bakal lama baru bisa terlepas dari belenggu krisis listrik. Genset bakal tetap jadi bisnis menarik. PLN tetap menyewa mesin dari perusahaan penyedia jasa listrik. Itu artinya penanganan listrik di daerah ini, tidak boleh lagi dengan cara biasa. Jangan lagi pakai pola tradisi lama. Bayangkan sudah 53 tahun usia Sulteng, daya mampu listrik kita baru 55-60 megawatt. Itu sama saja, kemampuan kita hanya satu megawatt satu tahun. Kasian.

Pada forum-forum terhormat. Di tempat-tempat diskusi. Di arena pameran pembangunan daerah. Sering dipaparkan potensi kelistrikan kita. Jumlahnya dahsyat. 1.000 megawatt bahkan sampai 2.500 megawatt. Ada di Donggala, di Palu, di Poso dan bahkan dimana-mana. Tapi itu hanya ilusi karena faktanya kota kita masih gelap. Lampu-lampu di jalan masih redup. Genset-genset warga masih meraung. Bau asap genset masih melekat di baju. Kebakaran masih sering terjadi gara-gara lilin. Investor banyak yang mundur.

Belum selesai kebutuhan listrik rumah tangga dan industri sekala kecil. Kita dikagetkan lagi dengan kebutuhan listrik di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu. Jumlahnya sampai 1.000 megawatt atau paling sedikit 350 megawatt. Kebutuhan itu lebih banyak dari kebutuhan listrik se Sulawesi Tengah saat ini.
Pemerintah daerah (gubernur, walikota, bupati) harusnya gelisah dengan urusan listrik ini. Pemerintah daerah harusnya mencak-mencak ke pemerintah pusat sebab kita belum sejahtera dari kebutuhan listrik. Para bupati mestinya kumpul bareng, bicarakan soal listrik ini. Apa solusinya. Apa yang kita mau bikin. Bukan justru mencak-mencak dan ribut di koran urusan bagi-bagi proyek. Bukan pula pamer panen raya padi di koran supaya dibilang peduli dengan petani. Kepala daerah jangan hanya sibuk buka acara seremonial ini dan itu. Era pemerintahan sekarang bukan lagi era seremonial. Itu gaya dulu. Gaya orde baru.

Pemerintah daerah harusnya ajak PLN duduk bersama. Ajak investor. Rangkul akademisi. Undang bapak-bapak terhormat dari DPRD, DPR RI dan DPD. Bagaimana kita sama-sama membuat keputusan bersama mengatasi listrik supaya teratasi hingga puluhan tahun nanti. Mari kita bikin perencanaan yang hebat. Tentukan solusi jangka pendek. Bikin negosiasi ke pemerintah pusat. Jangan kita hanya asyik dengan negosiasi proyek fisik dengan harapan mendapat tetesan fee. Kalau masalahnya ada pada regulasi, misalnya, ya mari kita dorong pengubahan regulasi itu.

PLN juga tidak boleh lagi merasa diri super power. Apalagi berpikiran monopoli. Katakan sejujurnya. Kalau tidak mampu, ya bilang tidak mampu. Kalau ada kendala, ya ungkapkan kendalanya. PLN harus transparan. PLN mestinya legowo, tulus membagi kekurangannya kepada pemda, agar pemda bisa mengambil tindakan. Pemda juga harus cekatan. Jangan mencekik investor, apalagi memperlambat proses perizinan lokasi usaha. Kalau itu dilakukan, sama saja pemda memelihara krisis listrik.

Saya menaruh harapan besar dua, tiga, empat bulan mendatang. Krisis listrik kita segera teratasi. Kita punya PLTA Sulewana Poso 195 megawatt. Di sana ada kelebihan daya sekitar 100 megawatt. Itu tidak bisa disuplai ke Palu karena kendala pembangunan tower dan transmisi karena masih ada warga yang menolak lahannya dipakai. Tapi sudah diurus. Mudah-mudahan warga kita tidak bertingkah lagi. Perusahaan juga harus transparan, katakan berapa sesungguhnya diterima pemilik lahan sebagai ganti rugi. Warga juga jangan mentang-mentang karena ada peluang, langsung naikkan harga tanah.

Harapan besar itu juga ada dari PLTU Tawaeli. Perusahaan yang dikuasai swasta itu, sedang membangun dua pembangkit 2 x 18 megawatt. Kalau semua ini tuntas dalam waktu dekat. Insya Allah sebelum bulan puasa, kita sudah terang. Tapi itu hanya sesaat saja, karena masih banyak yang antre menunggu rumah dan tempat usahanya dialiri listrik. Kalau semuanya dipenuhi, kita akan kembali krisis lagi.

Selanjutnya, apa peran saya. Peran Anda. Peran kita semua dalam mengatasi krisis listrik. Minimal kita hemat listrik agar yang lain bisa kebagian. Kita harus berbagi dalam penderitaan kolektif ini.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s