Tailasu

Malam tadi sy nongkrong sejenak di kafe jepa, Kota Palu. Sy ingin sekali mencicipi makanan khas sejumlah suku di Sulawesi itu sebagai pengganti nasi. Makanan yang dipanggang di kuali tanah itu nikmat sekali apalagi didorong dengan teh panas.

Sy sengaja memilih meja di dekat sekumpulan anak remaja, sekadar ingin menguping trend pembicaraan mereka. Mana tahu ada yg menarik.

Namanya saja remaja, pembicaraannya melompat lompat. Tidak ada pembahasan yg sedikit fokus seperti kalau para dewasa atau orang tua kumpul di kafe.

Sy tidak mengenal satupun nama diantara generasi masa depan itu. Tetapi dari pembicaraan mereka, sy menangkap ada nama panggilan yg akrab di telingaku, yakni Tailasu.

Dari kumpulan anak remaja itu ternyata banyak nama yang kembar, yakni Tailasu. Seorang yg telepon genggamnya ditarik oleh kawannya dalam satu meja, si pemilik telepon berterian jangan Tailasu. Sy menangkap bahwa kawan mereka yg menarik telepon itu namanya Tailasu.

Masih dalam kelompok di meja remaja itu, seorang lagi menyodorkan rokok kepada temannya yg naik. Ini rokok Tailasu. Sy menangkap, nama yg diberikan rokok adalah Tailasu.

Saat temannya yang lain meninggalkan tempat itu, tapi tanpa sengaja membawa rokok kawannya, si empunya rokok berkata, itu rokokku Tailasu. Nama si pembawa rokok berarti Tailasu.

Beberapa kali Tailasu disebut-sebut dalam perbincangan para remaja itu. Sebutan ini sangat akrab didengar di kalangan remaja, bahkan di kalangan orang dewasa sering terlontar kata Tailasu.

Tahukah Anda, apa itu Tailasu. Tailasu adalah kata-kata jorok untuk seorang pria. Tai artinya tai atau kotoran. Lasu dalam bahasa Kaili artinya alat vital laki-laki. Tailasu berarti kotoran alat vital pria. Kata itu identik dengan Jancu dalam istilah di Jawa Timur. Atau Cukki di Manado.

Seperti halnya di tempat lain, kata seperti itu juga sering terlontar dari bibir para remaja pun juga pria dewasa bahkan dari mulut seorang perempuan. Sebut saja, Tailaco atau Tailaso. Tailaco atau Tailaso biasanya terlontar dalam pergaulan remaja etnis pria Bugis. Artinya sama dengan Tailasu.

Tailasu, Jancu, Cukki, Tailaco atau Tailaso dalam tradisi tutur remaja atau pria dewasa sudah lazim. Sudah menjadi bahasa sehari-hari, sehingga dianggap tidak masalah. Bahkan ada diantara remaja tidak lengkap rasanya jika tidak mengungkap kata itu dalam sehari.

Bahasa kotor itu bagi orang sensitif bisa jadi masalah serius bahkan bisa berujung perkelahian, karena sudah menyangkut harkat dan martabat seseorang, tetapi dalam dunia gaul remaja kita, itu dianggap biasa-biasa saja.

Begitulah kira-kira potret dari bahasa tutur remaja kita yg sudah mentradisi, yakni bahasa kotor, namun dianggap biasa-biasa saja.

Lalu dimana bahasa tutur yg santun bercokol. Apakah tidak ada kata ganti dari Tailasu atau Tailaso itu. Kenapa harus menggunakan kata itu. Bagaimana cara mengubahnya. Akankah kata itu nanti hilang dari percakapan hari-hari rakyat kita, atau justru semakin menjadi. Entalah.

Tetapi mestinya istilah ini tidak boleh berkembang. Harus diproteksi. Caranya, tergantung peran orang tua. Jika orang tua tegas, ketika mendengar anaknya berkata Tailasu, mestinya ditegur, diberitahu bahwa kata itu tidak sopan. Tetapi jadi masalah jika orang tua pun sesumbar menyebut-nyebut kata Tailasu.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s