Catatan Dari Bilik Kerja Wali Kota Palu

Sore itu saya hendak bertemu Wali Kota Palu Hidayat. Walaupun dua jam menunggu giliran karena banyak tamu, saya akhirnya diberi juga kesempatan oleh staf menemui wali kota yang baru dilantik 17 Februari 2016 itu.

Saya hendak memberi masukan tertulis terkait solusi jangka pendek terhadap sejumlah pengaduan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Para pelaku khususnya yang bergerak di industri rumahan itu beberapa kali mencurahkan berbagai keluh kesah mereka kepada saya, melalui perwakilan mereka.

Pengaduan itu penting segera disikapi karena para pelaku usaha itu telah menyelamatkan bangsa ini dari badai krisis ekonomi yang pernah menggoyang bangsa ini 1998 lampau. Dan hingga kini, kita masih kuat lantaran peran mereka.

Tahun ini pemerintah harusnya mengintervensi pelaku UMKM agar lebih kuat, mengingat tahun ini secara umum kondisi ekonomi kita mengalami pelambatan. Makanya perlu segera diintervensi untuk jangka pendek. Inilah yang ingin saya sampaikan secara tertulis ke wali kota. Setidaknya bisa dipertimbangkan, kalaupun sulit dijalankan.

Pada kesempatan itulah pertama kali saya menginjakkan kaki di ruang kerja wali kota sejak kantor itu berdiri.

Di ruangan itu, saya tidak langsung diterima. Saya menunggu giliran lagi karena masih banyak pejabat yang hendak bertemu maupun tamu-tamu lain nondinas. Sore itu betapa padatnya lalu lintas tamu yang hendak bertemu wali kota. Tentu saja dengan urusannya masing-masing.

Saya sengaja berlama-lama agar bisa melihat seperti apa padatnya aktivitas wali kota di ruang kerjanya. Tamu yang tidak henti dan berkas yang tertumpuk di atas meja kerja tentu saja butuh waktu mengerjakan itu semua.

Menjelang petang, saya pun diterima. Baru sedikit pembicaraan berlangsung, tamu yang lain sudah masuk lagi. Saya mengalah, beri kesempatan yang lain dulu. Waktu magrib pun tiba. Pak Hidayat bergegas ke kamar mandi, berwudhu. Kami magrib berjamaah. Oww saya disorong jadi imam. Ya tidak apalah, sesekali menjadi imam untuk pejabat.

Usai magrib, Hidayat kembali lagi ke meja kerjanya. Satu persatu tumpukan berkas mulai diperiksa. Diteliti dengan seksama. Itulah pak Hidayat, teliti sekali soal surat-surat yang masuk ke mejanya. Ada yang kurang jelas dipanggilnya bagian humas. Ada yang tidak jelas, tidak digubrisnya. Ia kembalikan ke sekretaris kota.

Baru selang setengah jam mengorek berkas, ada lagi tamu yang lain. Tidak putus-putusnya tamu. Mungkin karena baru menjabat sehingga banyak yang ingin bertemu, setelah beberapa bulan lamanya istirahat dari hiruk pikuk pilkada langsung.

Tidak terasa waktu sudah hampir jam 9 malam. Pak wali belum juga makan malam. Ia masih berjibaku dengan kertas-kertas di atas mejanya. Sambil melayani satu dua tamu yang datang bergantian. Beliau tidak ingin ada berkas yang tertinggal di meja kerjanya karena bisa menghambat mesin birokrasi. Namanya birokrasi, urat nadinya ada pada berkas-berkas itu. Kalau tidak segera ditangani, lalu lintas birokrasi bisa terhambat.

Karena banyaknya tamu dan padatnya kerja wali kota, rencana saya menyampaikan gagasan atas penyelesaian sejumlah pengaduan pelaku UMKM pun tidak kesampaian. Gagasannya baru masuk sepotong. Tapi tidak masalah, mungkin di lain waktu bisa bertemu kembali.

Beberapa malam sebelumnya, pak Hidayat lembur sampai jam 12 malam. Mengajak satu persatu kepala dinasnya membicarakan program penting dan mendesak maupun sejumlah pekerjaan yang masih terbengkalai. Setiap masalah harus dirunut satu persatu, tentunya dengan mata pisau analisa yang tajam agar setiap masalah terpecahkan dengan baik.
Para kepala dinas dan staf, terpaksa ikut irama kerja wali kota. Kerja sampai malam. Bahkan hari Sabtu dan Minggu pun kadang Hidayat diam-diam pergi ke kantor.

Sejak dilantik menjadi wali kota bersama wakilnya Sigit Purnomo Said alias Pasha. Saya melihat sedikit ada perubahan di wajah wali kota Palu itu. Jidadnya kelihatan semakin mengerut. Kantung matanya juga sudah mulai menonjol. Rambut sedikit lebih tipis sehingga kelihatan lebih tua dibanding sebelumnya.

Begitupun Sigit. Vokalis Ungu Band itu kelihatan lebih tua dari sebelum dilantik. Mungkin pengaruh kerja yang padat. Sama seperti Hidayat, Sigit juga kerap lembur sampai malam.

Pemerintahan Hidayat – Sigit bisa dikatakan hanya melanjutkan program pemerintahan sebelumnya karena keduanya dilantik setelah anggaran daerah 2016 telah ditetapkan. Otomatis visi dan misi yang diusung keduany, belum tercermin pada APBD 2016, sementara di sisi lain sudah banyak yang menanti kerja nyata atas janji-janji politik keduanya saat kampanye pilkada serentak 2015.

Kerja keras Hidayat-Pasha memang sangat dibutuhkan sebab efektivitas pemerintahan keduanya terbilang empat tahun, sebab tahun pertama baru sebatas menjalankan anggaran yang sudah ditetapkan. Anggaran itu tidak mengacu pada rencana pembangunan jangka menengah kota era pemerintahannya. Jika tidak bekerja keras maka waktu empat tahun tidaklah cukup untuk mengukur capaian visi dan misi pemeriintahannya.

Sebaik apapun rencana kerja pemerintah kota, segesit apapun keduanya bekerja, tetapi jika tidak didukung oleh jajarannya, masyarakat kota dan DPRD, maka cita-cita mewujudkan Palu sebagai kota jasa, berbudaya dan beradat, berlandaskan iman dan takwa akan sia-sia. Di sinilah pentingnya kita bersama-isama mengambil peran.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s