Songkok

Bicara songkok, saya terbayang dengan wajah para tokoh nasional seperti Soekarno. Banyak foto-foto proklamator itu beredar dengan ciri khasnya yakni songkok.

Saya juga terbanyang dengan wajah Bupati Donggala Kasman Lassa dengan songkoknya yang lancip. Bahkan dengan songkoknya yang menyerupai songkok Bung Tomo itu menjadi ciri khas yang jarang dimiliki para tokoh. Bupati sang fenomenal itu pun dikenal dengan songkok lancipnya.

Saya juga terbayang dengan foto-foto anak-anak sekolah tempo dulu, khususnya anak-anak sekolah muslim. Salah satu identitas mereka adalah songkok atau kopiah atau peci hitam.

Bicara songkok saya juga teringat sebuah ceramah seorang ustadz. Penceramah itu bilang, tidak sedikit para imam masjid atau pegawai syarah kita di desa-desa songkoknya pun sudah kuning dan lusuh karena ditelan zaman. Padahal songkok itu sebelumnya berwarna hitam pekat. Itu artinya mengganti songkok pun susah karena terperangkap kemiskinan dan itu tergambar dari songkok mereka.

Itu dulu. Sekarang sudah teramat jarang kita menjumpai imam atau pegawai syarah yang songkoknya kekuning-kuningan. Selain karena kemampuan belinya sudah meningkat, songkok atau kopiah atau peci juga sudah mulai lekang. Ciri khas penutup kepala orang Indonesia ini telah tergantikan dengan kopiah putih yang umumnya dipakai oleh muslim di Timur Tengah.

Begitu banyak identitas keIndonesiaan kita yang pelan-pelan mulai tergerus tergantikan dengan identitas lain. Sebut saja songkok, salah satunya.

Di masjid-masjid, songkok mulai jarang digunakan. Digantikan dengan topi putih bahkan ada yang melilit kepalanya dengan surban. Nuansa keIndonesiaan itu, terasa sekali mulai hilang dan tergantikan dengan nuansa Timur Tengah. Seakan-akan hanya pakaian dari Timur Tengah sanalah yang bercorak muslim.

Pada era pemerintahan Soeharto, songkok menjadi identitas khusus yang tidak pernah ketinggalan pada setiap pelantikan menteri kabinet. Itu menjadi ciri khas sekaligus pembeda dari seluruh menteri kabinet pemerintahan di seluruh dunia.

Semoga saja, ke depan, ciri itu tidak tergantikan dengan simbol penutup kepala yang lain karena itu adalah tindakan nyata mendegradasi simbol-simbol keIndonesiaan kita.

Songkok adalah salah satu pembeda dari ciri Indonesia dengan negara lain dimanapun di dunia ini. Penutup kepala ala Indonesia ini sangat kental dengan nuansa keindonesiaan kita. Bahkan Bupati Donggala Kasman Lassa, salah satunya dikenal dengan ciri khasnya, songkok lancip.

Songkok dalam sejaranya mengalami evolusi yang cukup panjang. Songkok dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah skull cap atau batok kepala topi. Namun kata tersebut mengalami metamorfosa dalam pelafalannya menjadi skol kep, kemudian menjadi song kep dan sampai menjadi song kok. Kata songkok ini sangat populer di era kebangkitan nasional.

Sementara kata kopiah diadopsi dari bahasa Arab yakni kaffiyeh atau kufiya. Dan peci pada masa penjajahan Belanda disebut Petje. Dari kata Pet dan diberi imbuhan je.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s