Kedalaman Iman dan Warung Makan

Agak berat jemari sy menuangkan pikiran ini dalam tulisan. Apalagi sudah mau imsak. Otak mulai beku. Apalagi sudah banyak sekali pendapat berseliweran soal aktivitas kuliner di siang hari di bulan Ramadan. Bahkan kelompok ulama yg ilmunya sangat tinggi sudah mengeluarkan himbauan di sejumlah daerah. Tidak itu saja, larangan itu juga sudah di-backup dengan peraturan daerah.

Segala sudut pandang juga sdh disangkut pautkan. Mulai dari toleransi, hak asasi manusia, agama, tradisi daerah sampai pada kepentingan ekonomi. Ibarat hidangan makanan, menunya sudah sangat beragam. Selanjutnya terserah Anda, mau pilih makanan yg mana. Kalau kurang pedas, silahkan ditambah sendiri. Kurang garam, silahkan campur sendiri. Kira-kira begitu. Sudah sangat lengkap sajiannya.

Masalahnya sekarang bukan pada jejeran pendapat itu, tetapi ada pada diri kita. Kadang kita terlalu emosional menyikapinya, sangat sensitif, padahal banyak perkara yg mestinya perlu disikapi lebih sensitif, tetapi justru kita anggap biasa-biasa saja. Masih banyak hal yg butuh sikap tegas dan reaksi kita secara cepat justru belum dilakukan.

Soal aktivitas warung di siang hari di bulan Ramadan, ini hanya soal toleransi. Toleransi dari orang yg tidak berpuasa maupun oleh mereka yg berpuasa. Pribadi saya sangat mentoleransi mereka yg membuka jajanan di siang hari di bulan Ramadan. Bisa jadi mereka sedang butuh uang untuk kelangsungan hidup hari ini. Bisa jadi, jika mereka tidak berdagang, entah makan apa mereka besok. Ini juga perlu ditoleransi.

Sebaliknya, mereka yg membuka warung juga harus mentoleransi kepada mereka yg berpuasa. Tidak boleh terbuka, meski memang warung itu dibuka bukan untuk orang-orang berpuasa.

Bagi mereka yg menjalankan ibadah puasa dengan totalitas, warung dgn sajian makanan apapun yg dibuka, tidak membuat mereka tergoda. Karena mereka mengerjakannya dengan iman, bukan karena yg lain. Jika totalitas ibadah itu dijalankan, maka mereka yg membuka warung di siang hari dengan sendirinya tidak bisa melangsungkan kegiatannya karena tidak ada yg membeli, kecuali bagi mereka yg memang tidak berpuasa.

Penghormatan kepada bulan Ramadan dan orang berpuasa, tidak boleh hanya dilihat sebatas simbolik belaka, tetapi juga subtantif. Bagi mereka (Islam) yg tidak berpuasa, secara sembunyi menjalankan kegiatan terlarang justru menipu dirinya sendiri bahkan Tuhannya, karena dirinya sendiri tidak menghormati bulan puasa itu. Jadi, penghormatan terhadap bulan puasa, bukan sekadar makan di tempat umum atau membuka warung belaka.

Kita ribut urusan orang membuka warung atau tidak, tetapi kita lupa begitu banyak mereka yg berpuasa sekadar menahan lapar dan haus semata, karena bisa jadi lisannya tidak terjaga dan kelakuan begalnya. Jadi bukan soal kehadiran warung makan itu, tapi kuncinya ada pada diri pribadi. Jika imannya total, disajikan secara gratis pun tidak mungkin dicicipi. Itulah iman.

Kita suka ribut soal warung dan itu berlangsung setiap tahun. Kenapa? Karena memang yg kita ingin tampilkan baru sebatas simbolik kepatuhan kita kepada Tuhan maupun sesama manusia ketimbang subtansinya. Padahal bisa jadi, kehadiran warung makan di siang hari adalah bagian dari ujian yang diturunkan kepada mereka yang beriman.

Selamat menjalankan ibadah puasa di hari ke 13. Semoga kita menjadi golongan orang yang bertakwa.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s