Pejuang Koran Kampus Itu Telah Pergi

Kamis (19/11/2010) malam, saat saya sedang asyik nonton, handphone saya tiba-tiba berdering. Ada pesan singkat masuk dari Jafar G Bua, sahabat wartawan di Trans TV. Isinya cukup mengagetkan hingga konsentrasi menonton buyar.

“Berita duka telah meninggal dunia saudara kita Zainal Hikam, wartawan Harian Umum MAL pukul 19.00 Wita di Ampana (Touna). Mohon diteruskan kepada saudara handaitolan yang lainnya. Trims,” begitu isi sms yang dikirim Jafar. Pesan singkat itu berasal dari Susilo, di Ampana lalu diteruskan ke banyak teman.

Tidak lama berselang, sms yang sama juga datang dari atasan saya, kepala Biro Kantor Berita Indonesia ANTARA Palu, Rustam Hapusa. Isinya sama. Saya pun menyebarluaskan sms itu ke beberapa sahabat yang saya tahu mereka juga kenal Zainal Hikam. Salah satunya ke Mustafa Badwi, di Ampana. Mustafa sahabat satu kost saya saat masih kuliah. Zainal Hikam sering berkunjung ke kost kami entah menghadiri rencana aksi unjukrasa atau sekadar nonton tv.

Dari Mustafa-lah saya dapat kabar, bahwa kondisi Zainal Hikam sangat drop. Badannya kurus. Tidak mampu lagi berdiri. Tapi pria itu tetap tegar “bafeto” alias marah-marah. Itu memang kebiasaan Zainal Hikam saat masih mahasiswa dulu. Apalagi kalau tidak ada lagi rokok. Tapi marah-marahnya hanya candahan saja.

Kabar terakhir yang saya peroleh, Zainal Hikam diduga menderita limfoma atau kanker getah bening. Kata Jafar G Bua, kankernya sudah akut.

Kanker getah bening adalah tipe kanker yang menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening. Sel tersebut cepat menggandakan diri dan tumbuh secara tidak terkontrol. Karena limfosit bersirkulasi ke seluruh tubuh, maka selain di kelenjar getah bening tempat yang paling sering terkena limfoma adalah limpa dan sumsum tulang.

Selain itu, limfoma juga bisa terbentuk di perut, hati atau yang jarang sekali di otak. Seringkali lebih dari satu bagian tubuh terserang oleh penyakit ini. Penyakit limfoma dapat menyerang disegala usia, namun lebih sering menyerang usia tua 65 tahun.

Penyakit yang masih kurang mendapat perhatian di Indonesia itulah yang diduga menyerang sahabat saya, Zainal Hikam. Dalam usianya 30 tahun, ia sudah bekerja keras melawan penyakit berbahaya itu.

Zainal Hikam bagi saya adalah wartawan tanpa kenal lelah. Semangatnya untuk menjadi wartawan saya akui, hebat. Orangnya kreatif dan ulet. Dialah salah satu kawan saya yang mendorong berdirinya Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) STAIN Datokarama Palu saat kami masih menjadi mahasiswa. LPM itu kami beri nama Medik (media dinamika informasi kampus).

Zainal adik tingkat di kampus. Saya masuk kuliah tahun 1994. Zainal lebih muda dua tahun, 1996. Meskipun dia adik tingkat saya, tetapi saya butuh Zainal karena kreatifitasnya. Pembawaannya yang enteng bergaul membuat saya juga betah berteman dengannya. Di lain sisi, dia sudah kenal dunia wartawan sementara saya belum sama sekali.

Ide munculnya LPM itu setelah saya mendatangi sejumlah kampus di pulau Jawa tahun 1995, 1996, 1997. IAIN Alauddin Ujungpandang, IAIN Sunan Ampel di Surabaya, IAIN Sunan Kalijaga di Jogyakarta, IAIN Gunung Jati di Bandung, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan IAIN Sunan Giri di Semarang, semuanya memiliki lembaga penerbitan yang dikelola mahasiswa. Hampir setiap fakultas punya lembaga penerbitan.

Bahkan saya ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba. Di sana juga banyak terbitan kampus. Yang membedakan adalah lahan garapan isu. Penerbitan di kampus IAIN lebih banyak mengupas soal agama, hak asasi manusia, dan demokrasi. Di Fakultas Kedokteran isunya lebih fokus masalah-masalah kesehatan dan lingkungan.

Kondisi itu sangat kontras dengan IAIN Alauddin di Palu, ketika itu. Kampus kebanggaan saya itu sama sekali belum ada terbitan kampus. Dulu pernah digagas kakak tingkat saya, tapi tidak lanjut karena dibredel.

Berkat petualangan ke sejumlah perguruan tinggi di Jawa itulah saya akhirnya mengajak beberapa kawan mendirikan LPM di STAIN Palu. Zainal Hikam berperan juru edit merangkap perwajahan. Kalau mau naik cetak, dialah yang sibuk lobi ke percetakan negara atau mesin offset milik Media Alkhairaat. Saya dan sahabat yang lain tukang cari berita dan lobi ke birokrasi kampus agar terbitan kami itu dibiayai. Terbitan perdana pun sukses.

Suatu ketika dana kas LPM habis. Sementara kami masih tetap semangat untuk terbit. Solusinya, Zainal Hikam terpaksa mencetaknya dalam bentuk fotocopy dobel folio. Ia terpaksa merogoh koceknya. Gaji yang diperolehnya dari Tabloid Formasi, sebuah terbitan mingguan di Palu, sebagian digunakan untuk terbitan itu.

Dia melakukan itu dengan tulus. Yang penting baginya terbitan kampus harus terbit dan beredar di tangan mahasiswa dan dosen. Apapun modelnya, Zainal Hikam tidak peduli. Kendati merokok pun kami kurangi.

Belakangan saya tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan kuliah Zainal Hikam. Saya dapat kabar, kuliahnya tertunda lantaran dia sudah mencintai profesi jurnalis. Hingga akhir hayatnya, Zainal terdaftar sebagai wartawan Harian Alkhairaat….Selamat jalan sahabat, semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.

Sahabatmu Adha Nadjemuddin…

Palu, 20 November 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s