Pulau Pasoso

Pulau Pasoso dan Semangat Wartawan Palu

Jumat (22/4/2011) adalah hari paling sibuk dari beberapa sahabat wartawan di Palu. Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, Mohammad Subarkah, sejak pagi sudah sibuk mengemasi barang-barang bawaannya. Hari menganjak siang, kontributor Bisnis Indonesia itu sudah memboyong rangselnya ke Sekretariat AJI Palu, Jalan Rajawali 28. Ia bahkan merogo koceknya untuk membeli “nesting”, peralatan masak serba guna dan praktis. Harganya hampir Rp400 ribu.

Sebelum dirapikan, “nesting” itu ia pragakan di depan saya. Satu persatu fungsi peralatan ia jelaskan. Mulai dari tungku sampai belanga masaknya. Ukuran belanga yang dibeli Subarkah lumayan cukup sekali memasak untuk ukuran dirinya. Subarkah termasuk wartawan bertubuh tambun. Makanya kemana-mana ia selalu membawa air kemasan dalam botol. Satu yang patut dicontoh dari wartawan bapak satu anak ini, dia tidak perokok.

Hampir semua perlengkapannya hingga Jumat malam sudah siap. Urusan berpetualang, memang hobinya sejak masih sekolah di SMP dan SMA. Subarkah termasuk lelaki suka menantang alam. Sejak itulah ia bergabung di kelompok pecinta alam. Makanya dia mahir urusan perbekalan untuk perjalanan beberapa hari.

Beda dengan Basri Marzuki. Wartawan yang satu ini, tidak begitu pusing urusan logistik. Mungkin karena kantong ususnya kecil, sehingga daya tampungnya juga kecil. Tidak perlu repot-repot mengurusi bekal. Malam itu, Basri hanya sibuk mengurus kameranya. Ia mendandani kameranya secara seksama dengan harapan bisa memotret pulau Pasoso dengan sempurna. Konon pulau Pasoso menawarkan keindahan alam dan spesis iklan yang beragam. Mulai dari penyu, pemandangan bawah laut, matahari terbit dan terbenam. Konon di pulau ini, untuk menyaksikan matahari terbit dan terbenam Anda tidak perlu beranjak dari satu tempat. Inilah salah satunya yang membuat gila Basri Marzuki. Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu itu sudah dikenal dengan karya jurnalistik fotonya di sejumlah kantor berita foto internasional.

Lain lagi dengan Fiqman, juga pewarta foto. Jumat malam ia menyiapkan perlengkapannya dari toko sepatu sampai mal. Perwarta foto bujangan ini rela merogo koceknya dengan membeli sepatu mahal dari hasil keringatnya memotret. Ia membeli sepatu mini boot sehingga mata kakinya bisa terlindung jika terkilir. Ia juga membeli perlengkapan kantong tidur “sleeping bag”. Tikar multi fungsi berbahan parasut. Semuanya untuk perlengkapan semalam di Pasoso.

Djafar G Bua, wartawan Trans TV, sibuk dengan kamera videonya. Malam itu dia kelihatan marah-marah karena kamera yang hendak dipakai di Pasoso, masih dipakai kameramannya. Djafar termasuk wartawan senior diantara sembilan wartawan yang hendak ke Pasoso. Djafar di kalangan teman-teman wartawan di lingkungan AJI Palu, dikenal senior. Dia juga agresif. Wawasannya luas.

Ada juga Ahmad Muhsin, wartawan Metro TV. Laki-laki yang biasanya dipanggil Matre ini, tidak pusing kalau urusan berpetualng ke pulau. Makanya tidak begitu banyak persiapannya. Matre jago di pantai. Ia juga hobi memancing. Sejak kecil, laki-laki dari Tidore, Maluku Utara ini sudah akrab dengan pantai. Ia mengenal Kota Palu tahun 1998. Ketika itu, dia bertugas mengajar di Pesantren Alkhairaat Dolo. Ia mulai meniti karir kewartawanananya dari Radio Alkhairaat tahun 1999. Dari sanalah Matre hingga akhirnya menjadi wartawan di Metro TV. Selain di stasiun tv dia juga bekerja untuk Radio Ramayana, satu-satunya radio aliran dangdut di Palu. Saya juga pernah menjadi pemimpin redaksi di radio ini.

Selain wartawan laki-laki, ada juga wartawan perempuan. Mereka adalah Erna Dwi Lidyawati, wartawan Radio 68H Jakarta dan Radio BBC London. Selain bekerja di radio, Erna juga salah seorang wartawan perempuan yang produktif menulis di berbagai majalah, seperti majalah Kartini.

Wartawan perempuan lain adalah Indrawati Zainudin. Wartawan perempuan muda ini hijrah dari Sulawesi Selatan ke Palu lalu bergabung di Nuansa TV, salah satu televisi lokal yang eksis di Palu sejak akhir tahun 2010. Indrawati spesialis acara “Topanjayo”. “Topanjayo” berasal dari bahasa Kaili, artinya “jalan-jalan”. Acara ini adalah salah satu acara favorit di televisi yang dibangun akhir tahun 2010 itu. Indrawati membawa serta kamerwannya, Dedidwi Agusmianto. Selama di perjalanan dan di Pasoso mereka menghabiskan tiga kaset. Satu kaset durasi 60 menit. Acara Topanjayo tayang setiap hari Senin pukul 19.00 WITA sampai 20.00 WITA.

Selain dua wartawan perempuan itu, juga ikut seorang mahasiswi, Winda. Erna dan Winda, dua bersaudara. Keduanya paling hobi berpetualang. Erna, meski berbadan tambun, tetapi nyalinya dengan alam sangat kuat mengalahkan postur tubuhnya. Dia bahkan rela memanjat gunung kemiringan 45 derajat hanya untuk liputan. Ibu dua anak ini, salah seorang yang paling ngotot pergi ke Pasoso. Beberapa hari sebelum berangkat, Erna sudah mencatat beberapa sudut pandang berita yang menurutnya menarik. Erna banyak merekam atmosfir di Pasoso melalui radio perekamnya. Perempuan ini pantas dijuluki wartawan petualang.

Sabtu pukul 08.00 WITA para kuli tinta itu meluncur ke Pasoso, sebuah pulau terletak di wilayah Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala. Jaraknya sekitar 100 kilometer utara Kota Palu. Mereka tiba di Desa Labean, Kecamatan Balaesang sekitar pukul 10.00 WITA. Dari sana mereka menyeberang naik kapal penangkap ikan kapasitas 15 gross ton. Tiga jam perjalanan dengan cuaca yang bagus, tidak berombak. Tiba di Pasoso sekitar pukul 13.00 WITA.

Pulau ini memiliki lebar sekitar 500 meter dan panjang 1.000 meter. Hanya ada enam rumah penduduk dihuni enam kepala keluarga. Ada belasan anak-anak, tetapi semuanya tidak sekolah. Tidak ada air tawar di pulau itu. Selain memburu keindahan alamnya, para wartawan itu juga tergerak hatinya untuk memotret kondisi sosial di sana. Mereka bertemu dengan Pak Ahmad, penjaga pulau yang memiliki 15 orang anak. Dahsyat.

Sembilan wartawan itu paling beruntung. Kecapean mereka terobati dengan keindahan alam dan kondisi sosial di sana. Saya lah wartawan paling sial, tidak ikut bersama rombongan wartawan petualang itu. Entah kapan waktu, saya akan menginjakkan kaki di pulau 1001 keindahan itu. Saya akan mengabarkan kepada Anda yang lebih banyak lagi tentang Pasoso.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s