Demokrasi di Madrasah-pun Mulai Tumbuh

Saya tiba-tiba teringat dengan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Palu. Sayapun menyempatkan diri berkunjung di sekolah ini, Senin (16/11). Bagi saya MAN 1 Palu adalah awal kebangkitan sprit berorganisasi saya. Di sekolah inilah saya mulai banyak melibatkan diri dalam kegiatan organisasi intra sekolah. Tahun 1992/1993 saya bahkan terpilih menjadi ketua OSIS, sebuah jabatan “politis” tertinggi di tingkat organisasi siswa. Bangga juga rasanya hehehe…

Seingat saya, tahun 1992/1993 metode pemilihan ketua OSIS waktu itu masih kampungan. Pemilihnya terbatas, sama dengan waktu presiden/bupati/gubernur saat masih dipilih oleh DPR/DPRD. Itu masih mending karena yang memilih wakil rakyat.

OSIS dipilih oleh tim formatur terdiri dari lima orang yang dipilih oleh peserta musyawarah. Tim formatur inilah yang memilih kandidat ketua OSIS. Sebelum dipilih kami diuji dulu, semacam uji kepatutan dan kelayakan (fit and propert test). Asyik juga.

Kandidat ketua OSIS yang memiliki visi dan misi paling bagus menurut versi tim formatur, dialah yang terpilih menjadi ketua OSIS. Itu zaman dulu, waktu saya masih kandidat kuat ketua OSIS hehehe.

Sekarang jauh berbeda. Sejak tahun 2007 pola pemilihan ketua OSIS sudah menyerupai pemilihan presiden atau pemilihan anggota legislatif. Beberapa kesamaan Pilpres dan Pemilu legislatif dilakukan, misalnya proses pendataan daftar pemilih yang berhak memberikan hak suaranya, mekanisme pengajuan pasangan calon ketua dan wakilnya, aturan kampanye sebagai sarana pengenalan visi dan misi pasangan calon, hingga mekanisme pemberian hak suara di bilik suara.

Pemilihnya, tidak hanya melibatkan siswa tapi juga kepala sekolah, guru dan seluruh pegawai di lingkungan MAN 1 Palu. Pemilu OSIS akhir Oktober 2009 lalu, siswa yang berhak memilih sebanyak 616 orang. 70 orang guru, kepala sekolah, staf guru dan seluruh pegawai di sekolah itu.

Sedangkan mekanisme pengajuan pasangan calon dilakukan melalui jalur organisasi di bawah OSIS, yakni Pramuka, PMR dan Sanggar Seni. Bisa juga dilakukan melalui jalur independen, namun pada pemilihan kali ini mereka mengundurkan diri. Kali ini, Pramuka mengajukan pasangan calon Fitriani dan M Arsandi (nomor urut 1), Sanggar Seni mengajukan M Fadil dan Rifaldi (nomor urut 2) dan PMR mengajukan nama M Sabir dan Rofiq (nomor urut 3).

Tiga kandidat inilah yang melakukan kampanye di depan siswa. Sama juga seperti para caleg atau capres menggelar kampanye. Para calon ketua OSIS juga sudah pandai mengumbar janji. Yah, janji-janji politik internal sekolah.

Saat Pemilu OSIS berlangsung tiap-tiap kelas datang ke tenda tempat pemungutan suara. Agar tidak kacau, setiap kelas digilir mendatangi tempat pemungutan suara. Agar tidak dua kali memilih, panitia memberi tenda tinta hitam di jari pemilih. Sama waktu piplres dan pemilu.

Kedatangan saya di MAN 1 Palu benar-benar membuat saya berdecak kagum. Banyak perubahan, terutama terkait dengan pembangunan demokrasi di sekolah itu.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s