Sebulan Kepemimpinan Longki-Sudarto

Tidak terasa sudah sebulan Longki Djanggola-Sudarto menjabat gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah sejak dilantik 17 Juni 2011 oleh Mendagri Gamawan Fauzi. Tentu saja waktu sebulan belum bisa dijadikan alat ukur untuk mengetahui berhasil atau tidaknya Longki-Sudarto. Masih terlalu dini. Tetapi setidaknya dalam rentang waktu itu banyak harapan yang bisa kita titipkan di pundak pemimpin Sulawesi Tengah itu.

Saya mencatat beberapa hal penting dari apa yang sudah dilakukan Longki-Sudarto dalam kurun waktu sebulan. Pertama, keinginan kuat dari kedua pemimpin ini mendorong peran dunia perbankan dalam memajukan roda perekonomian di Sulawesi Tengah. Hal ini bisa dilihat dari beberapa pikiran Longki dalam dialog terbatas dengan kalangan perbankan dan pengusaha di aula Bank Indonesia Palu, 13 Juli 2011 lalu. Dari pertemuan itu saya menyimpulkan betapa Longki butuh dukungan dari perbankan. Dua hal yang ingin ditekankan Longki terhadap dunia perbankan, yakni mendorong keterlibatan perbankan di sektor pertanian dan peran sosial perbankan dalam mendorong sumber daya manusia.

Kenapa Longki begitu peduli terhadap sektor pertanian. Data Bank Indonesia Palu menyebutkan sektor pertanian telah memberi kontribusi besar dalam produk domestik regional bruto (PDRB) yakni rata-rata di atas 40 persen setiap tahunnya yakni 44,03 persen (2006), 42,82 persen (2007), 41,56 persen (2008), 41,04 persen (2009), dan 40,44 (2010). Pada triwulan I 2011 sektor pertanian berkontribusi 41,31 persen. Subsektor tanaman pangan dan bahan makanan berkontribusi besar bagi kinerja pertanian masing-masing 38 persen dan 31 persen, disusul subsektor perikanan 16 persen, kehutanan sembilan persen serta peternakan dan hasil-hasil lainnya sebesar enam persen.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2011 sebesar 9,46 persen, sektor pertanian masih memberikan
kontribusi terbesar yakni 4,00 persen, diikuti sektor jasa-jasa 1,41 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,19 persen.

Satu sisi sektor pertanian begitu dibanggakan, karena kontribusinya begitu besar dalam PDRB maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi di sisi lain petani justru masih mengalami tekanan akibat masih rendahnya nilai tukar petani (NTP). Rata-rata NTP setiap tahunnya masih dibawah 100 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat tani belum menggembirakan karena harga yang dibayar masih lebih besar dari harga yang diterima petani.

Inilah menjadi kegelisahan Longki sehingga perlu didorong partisipasi perbankan dalam memajukan pertanian. Selama ini proporsi kredit pada sektor pertanian masih kecil baik secara nominal maupun jumlah debitur. Pada Mei 2011 misalnya, kredit untuk pertanian hanya dua persen dari total kredit yang dikucurkan. Sebagian besar portofolio kredit yang disalurkan oleh perbankan masih didominasi oleh kredit untuk kegiatan konsumsi yakni 50,75 persen.

Pemikiran Longki sebetulnya sederhana. Jika petani disuntik dana segar untuk mengembangkan usahanya praktis akan sangat membantu. Subsektor perikanan kelautan misalnya, beberapa petani rumput laut di Parigi Moutong rata-rata butuh dana untuk menambah luas lahan.

uhhh ngantuk ntar dilanjut lagi………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s