Oh Pemuda, Nasibmu Kini

Tadi siang, 28 Oktober 2009, saya menjadwalkan ke pasar Manonda Palu, Sulteng. Sengaja saya ke pasar itu di hari Sumpah Pemuda karena di sana banyak pemuda yang bekerja. Tidak saja sebagai pedagang, tapi juga sebagai buruh pasar. Pemuda itu cukup memberi andil bagi kelancaran distribusi barang dan angkutan belanja konsumen di pasar yang jorok itu.

Saya menyempatkan diri berkumpul dengan beberapa pemuda yang setiap harinya menarik gerobak di sana. Sayang sekali saya hanya mampu membelikan sebungkus rokok. Lalu itu yang kami isap bersama.

Di sana saya bertemu dengan Rusman pemuda 30-an tahun dari Desa Kalora. Dia sudah punya dua anak. Ada juga Arham (20-an tahun) juga sudah satu anak. Aziz (kelahiran 1983), dua anak, dan Pak Nasar (sekitar 38 tahun), punya tiga anak. Ketiga pemuda itu semuanya berasal dari desa Kanuna, sekitar 20 kilometer arah Barat kota Palu.

Sengaja saya datang agak siang, karena biasanya waktu itu mereka istirahat. Kalau pagi atau sore hari, mereka sangat sibuk menarik gerobak. Punggung mereka dililit tali untuk menarik gerobak. Tidak tega rasanya mengganggu aktivitas mereka.

Ternyata betul. Siang 28 Oktober, saya dapati mereka sedang beristirahat di sebuah kios yang sudah reot. Di sana kami bercerita soal pemuda. Sayang sekali mereka tidak tahu apa itu “Sumpah Pemuda”. Mereka hanya kenal 17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia. Meski begitu tidak membuat cerita kami berhenti. Saya terus bertanya, mereka pun terus bercerita.

Rusman memperkirakan, jumlah teman-temannya yang bekerja sebagai buruh di Pasar Manonda Palu Barat itu sekitar 200-an orang. Jika diakumulasi dengan mereka yang bekerja sebagai tukang ojek dan becak jumlahnya lebih banyak lagi.

Saban hari mereka turun ke Pasar Manonda dari lembah Palu. Sewa ojek 2.000 rupiah. Mereka kembali sore menjelang Magrib. Ongkos kembali lebih mahal, 3.000 rupiah karena mendaki. Begitu setiap harinya mereka lakukan. Dari sebelum menikah hingga sudah beranak pinang, mereka tetap bekerja sebagai buruh pasar. Kasian juga rasanya.

Kulit mereka hitam legam karena terbakar matahari. Potongan tubuhnya banyak yang pendek. Mungkin karena setiap harinya beban yang mereka pikul cukup berat sehingga menekan pertumbuhan tulangnya. Apalagi itu mereka lakukan saat dimana tulang sedang mengalami pertumbuhan.

Begitulah potret pemuda kita yang menjadi buruh pasar. Mereka adalah bagian dari kita-kita pemuda yang ganteng dan pandai-pandai ini. Kendatipun mungkin kita pernah berbuat “tidak wajar” untuk mendapatkan duit. Berbeda dengan mereka. Harus susah payah dulu bekerja baru bisa mendapatkannya. Itupun lebih banyak tidak cukupnya. Saya merasa ibah juga.

Keterbatasan SDM membuat mereka semakin terjepit. Apalagi tidak pernah ada kaum cerdik pandai yang mengajak mereka bertukar pikiran atau memberi ajakan. Wajar jika kemudian pikiran mereka hanya terkonsentrasi pada urusan menarik gerobak, karena memang otak kecil mereka tidak pernah disentuh bagaimana caranya keluar dari keterpurukan itu. Sialnya lagi, gerobak yang mereka tarik bukan milik sendiri. Mereka menyewa dari beberapa orang yang kebetulan berkemampuan membeli gerobak.

“Bagaimana kira-kira kalau ada orang yang mau kasi uang untuk modal usaha?” begitu saya bertanya.

Saya sebetulnya berharap muncul jawaban yang bisa mencerahkan jalan ekonomi mereka. Setidaknya cita-cita dari mereka untuk bisa keluar dari kemelut kemiskinan dan kondisi sosial yang terpuruk itu. Tapi ternyata tidak. Jawaban mereka malah bingung. Kalau hari ini ada yang memberi modal, mau dikemanakan modal itu, mereka juga bingung. Tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Saya tidak menyalahkan mereka. Kita-kitalah yang sebetulnya salah. Kenapa tidak pernah mengajak mereka berdiskusi. Atau malah mungkin ada yang memanfaatkan mereka. Katakanlah untuk kepentingan politik, misalnya diundang saat kampanye pemilu. Mereka bagian dari akomodasi politik. Tapi kita lupa bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari kita.

Saya tidak bermasuk menunjukkan sisa-sisa idealisme dari dunia kampus, atau karena saya seorang jurnalis. Tapi itulah faktanya. Kita tidak pernah mengajak mereka untuk bertukar pikiran. Kita membiarkan mereka dalam kebodohan dan ketertinggalan.

Saya yakin, jika ini dibiarkan, maka mereka akan melahirkan lagi generasi yang sama dengan mereka hari ini. Pemuda-pemuda yang hanya bekerja sebagai buruh kasar. Jika itu terjadi, maka mata rantai produk pemuda kita belum menyentuh semua lapisan masyarakat. Mesin produksi pemuda kita masih rusak. Rusak karena pikiran-pikiran materialisme dan serba instan…

Lewat tulisan ini mereka menitip salam untuk kita semua. Kita yang peduli dengan mereka.

Wassalam….

One thought on “Oh Pemuda, Nasibmu Kini

  1. sahril83hril 23 Februari 2014 / 3:20 am

    Saya sebagai pemuda, malu tak sempat mencium isu ini. Mungkin karena terlalu sibuk dengan urusan sendiri2….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s