Bercita-cita Punya Stasiun Televisi

Berbekal sedikit pengetahuan tentang media pertelevisian sejak menjadi kontributor di RCTI, saya melihat ada potensi lokal yang bisa dikembangkan di Tolitoli. Selama mengenal dunia audio visual, saya melatih diri dengan mengambil event-event pesta pernikahan. Banyak sekali manfaatnya. Selain melatih kemampuan menguasai editing video dan teknik pengambilan gambar bersudut pandang seni, saya juga bisa memperoleh keuntungan materi. Berbekal sebuah handycam dan satu unit komputer, saya kemudian menjelajahi dunia audio visual ini. Lama-lama akhirnya tertarik juga.

Dari sanalah muncul ide membangun televisi lokal. Sejak itu pula saya rajin mencari informasi seputar pengelolaan televisi lokal melalui mesin pencari google. Banyak materi yang saya pelajari, lalu disesuaikan dengan kondisi daerah dan sumber daya yang tersedia. Teori memang penting, tetapi lebih penting lagi mewujudkannya dalam kerja nyata. Meski dengan segala keterbatasan yang saya miliki. Dengan percaya diri, saya belajar menyiar, baca berita, take vokal, dan menata studio apa adanya. Agar bisa maksimal, sahabat-sahabat wartawan televisi saya ajak bergabung. Ada Ria Shinta, kontributor Metro TV. Dia juga berbakat liputan reportase. Pernah menjadi penyiar radio dan bekerja untuk kantor berita radio 68H Jakarta. Suaranya bagus. Selain dia, ada Mahdi Rumi, kontributor SCTV. Pria ini punya semangat kerja yang tinggi. Dia dikenal luas di Tolitoli. Jejaring persahabatnnya bisa diandalkan. Pengalaman wartawannnya juga segudang. Hanya saja, ia masih gagap teknologi. Saya pun akhirnya merangkap semuanya. Juru edit gambar, teks, hingga baca berita.

Saya lemah dalam penataan cahaya dan desain studio. Saya akhirnya melirik potensi non jurnalis tetapi berbakat. Prana Djaya Rais, Fandy Rais, Awis Rais, adalah tiga bersaudara di Tolitoli jago dalam bidang seni. Darah seni ketiganya adalah titian dari almarhum ayahnya, Rais–seniman dan fotografer era tahun 1970-an dan 1980-an. Saya pun mengajak tiga bersaudara ini. Awis, adik paling bungsu, ahli dalam desain interior studio dan penataan cahaya. Dia juga jago melukis. Fandy Rais, pernah bergelut dalam seni drama. Dia paham betul, bagaimana membuat skenario cerita fiksi, koreografi, maupun vokal. Prana Djaya, kakak tertua mereka, juga serba bisa. Ia pernah menjadi penyiar terpopuler di Tolitoli akhir tahun 1980-an hingga awal era 1990-an. Lengkap sudah rasanya resources yang dimiliki crew calon televisi lokal itu.

Jauh sebelum merangkul sahabat-sahabat saya yang baik itu, hubungan kemitraan dan persahabatan sudah terjalin akrab dengan Sofyan Josoef. Pria muda profesional dalam bidang lembaga pendidikan komputer. Lembaga pendidikannya itu bernama Yayasan Pendidikan Multikom. Lembaga ini salah satu lembaga pendidikan komputer tertua di Tolitoli. Karena kondisi persaingan yang begitu hebat dalam urusan dunia komputer, usaha ini tereleminasi. Satu persatu mahasiswanya gugur. Anak kursus pindah ke lembaga lain. Sofyan, akhirnya berpikir hebat menyelamatkan usaha itu. Di tengah kebingungannya mempertahankan usaha, saya menawarkan ide membangun televisi lokal. Kebetulan sahabat saya itu, juga punya obsesi. Dia ingin punya radio swasta yang sehat dan disegani. Bersatunya seluruh kekuatan yang ada itu, makin lengkaplah resources yang kami miliki.

Yayasan Pendidikan Komputer Multikom, akhirnya kami jadikan basecam. Peralatan komputer yang saya miliki juga saya pindahkan ke tempat itu. Lampu-lampu sorot milik Awis Rais juga diangkut serta. Hampir tiap malam rame dengan pertemuan. Yayasan yang tadinya redup kembali bergairah. Lalulintas orang-orang di yayasan juga mulai bangkit lagi. Sofyan merasa ada nuansa baru dan semangat baru dalam kebersamaan.

Pertengahan tahun 2006 kami memberanikan diri meluncurkan satu acara khusus berita. Karena belum ada pemancar, kami bergabung dengan televisi kabel. Suatu malam, saya pun akhirnya muncul di layar televisi. Kabar Seputar Tolitoli, nama acara itu. Saya pembaca beritanya. Tampil pakai jas di studio yang sangat sederhana. Sepekan menyiar, siaran ini heboh di masyarakat. Sebagian orang sudah tahu jam tayangnya. Pukul 19.00 Wita. Suatu malam saya pergi rileks di pantai. Minum serabah. Sejumput orang tidak saya kenal menyapa saya. Ternyata mereka melihat lewat layar televisi. Minta ampun. Bangga sekali rasanya. Semangat saya tambah bangkit.

Strategi pengembangan bakal televisi lokal ini kemudian kami rancang bagus. Surat-suratnya kami lengkapi. Akte pendiriannya kami buat dengan nama yang disepakati, PT. Maleo Cendekia Televisi (MCTV). Proposal pendiriannya juga saya lengkapi. Saya menghubungi beberapa orang yang jago merakit pemancar gelombang televisi. Saya kontak hingga ke Bandung, agar kami dibuatkan satu rekayasa teknologi televisi yang daya jangkaunya kecil. Kira-kiran lima kilometer persegi. Cukup untuk menjangkau kota Tolitoli yang sempit. Sambil menunggu perangkat itu, acara televisi kami kembangkan. Acara Kabar Seputar Tolitoli tetap kami pertahankan. Penataan studio juga mulai baik. Siaran tetap disebarluaskan melalui televisi kabel. Tapi kali ini jaringannya lebih luas. Total pelanggan televisi kabel yang kami jangkau sudah mencapai delapan ribu unit. Kami pun makin dikenal.

Kami bagi tugas. Saya mengurus surat-surat hingga ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Sulteng. Saya juga merancang proposal usaha untuk ditawarkan ke investor. Total anggaran yang kami butuhkan waktu itu hanya Rp1,8 miliar. Sudah termasuk studio mini, kantor kontrakan, peralatan secukupnya, dan pemancar produk lokal Bandung. Lengkap sudah, termasuk biaya operasional selama enam bulan mendatang. Kami keliling mencari investor lokal. Tapi tidak ada yang berminat. Mungkin ini bisnis yang tidak masuk akal di kalangan masyarakat Tolitoli. Padahal ini sudah saya pikirkan akan menjadi satu-satunya televisi lokal di kabupaten di Sulteng, yang bisa saja melakukan korporasi dengan televisi nasional. Apalagi regulasi televisi lokal sudah diatur. Saya bahkan menawarkan ke pemerintah daerah. Bila perlu kerjasama dalam hal saham. Pemda bisa investasi sekaligus bisa dijadikan media publikasi dan sosialisasi kepentingan pemerintah daerah. Tapi lagi-lagi gagal. Andai saja waktu itu ada yang berani investasi, mungkin hari ini televisi Tolitoli sudah eksis dan menjadi dambaan sendiri bagi daerah itu. Inilah satu cita-cita yang tertinggal.

Mungkin saya terlalu berpikir idealis, sehingga tidak ada investor yang ingin bekerja sama. Saya ingin, karyawan yang bekerja di industri itu mendapat saham 20 persen dari total saham yang ada. Ini penting dibicarakan sebelum media itu terlanjur hidup. Saya ingin karyawan menikmati hak-haknya sebagai pekerja media. Sehingga meski mereka sudah tua sekalipun, tetapi hak-hak mereka tetap ada di media itu. Tenaga dan pikiran karyawan/wartawan yang bekerja di media harusnya dinilai sebagai sebuah investasi yang bisa diwujudkan dalam bentuk saham. Saya ingin sekali, industri media tidak saja mengekspoloitasi tenaga dan pikiran karyawannya, tetapi juga memberi nilai yang setimpal untuk masa tua karyawannya. Kalau itu bisa diwujudkan, kita berhasil meminimalisir monopoli kepemilikan pemodal. Sehingga jarak hidup antara pemilik modal dan karyawan bisa seimbang, meski kita tahu tidak harus sama dengan pemilik modal. Mungkin saja sebuah industri media punya karyawan hingga ribuan orang. Meski seluruh harta kekayaan karyawaanya dikumpulkan tidak akan bisa menyaingi kekayaan sang pemilik modal. Disinilah belum adilnya industri kita selama ini.

Menunggu investor tak tiba, kami akhirnya berusaha mengumpulkan uang. Kawan saya, Sofyan Josoef, terjun dalam dunia usaha kontraktor. Usaha itu sukses. Tapi banyak yang harus kami biayai. Ada tiga usaha yang harus dibiayai, yakni lembaga pendidikan komputer, radio, dan televisi. Karena dana yang tidak cukup. Pendanaan kami fokuskan di radio. Embrio radio ini sudah lama. Akte pendiriannya sudah ada sejak tahun 1995. Tapi tak kunjung beroperasi. Sofyan Josoef salah satu direkturnya. Haluan bisnis akhirnya diubah. Kami fokus di radio. Namanya MCS Radio 101,2 FM. Kami menyasar segmen pendengar pemuda dan menengah ke atas. Setelah mendaftar di KPI, radio ini akhirnya on air. Peralatannya tidak kalah dengan radio yang lain. Acaranya juga oke punya. Ada segmen berita. Kami didik beberapa wartawan radio. Pengalaman saya bekerja di Radio Alkhairaat Palu dan Radio Ramayana saya tuangkan di sini. Ilmu-ilmu keradioan yang saya dapati melalui pelatihan saya tumpahkan semuanya.

Ada kegiatan reportase, diskusi di studio, hingga talkshow menghadirkan nara sumber yang berkompoten. Suatu hari di hari pendidikan nasional tahun 2007 kami menggelar acara 16 jam bicara pendidikan. Ini acara paling special dalam sejarah radio itu. Acara kami kemas sedemikian apik. Mulai dari menghadirkan orang tua siswa, siswa, guru, praktisi pendidikan, Sekolah Luar Biasa (SLB), hingga anak putus sekolah. Topiknya macam-macam. Mulai dari kualitas guru, biaya pendidikan, sarana pendidikan, pendidikan luar sekolah, hingga cetak biru dunia pendidikan kita. Mulai dari interaktif, talkshow, hingga acara menampilkan kreasi seni karya anak didik. Semuanya kami kemas selama 16 jam non stop. Acara itu akhirnya menelorkan rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk berkomitmen menyekolahkan anak-anak yang terlantar. Jujur, saya bangga, karena kami mampu mempersembahkan yang terbaik untuk daerah. Tapi sayang, radio itu ikut wafat sebelum cita-cita pendirinya tercapai yakni menjadikan radio swasta yang maju dan berkontribusi dalam mendorong kemajuan daerah.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s